Semarang - Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, menekankan pentingnya memanfaatkan digital marketing sebagai strategi utama dalam melestarikan budaya lokal Jawa Tengah di kalangan generasi Z.
Menurut Heri, generasi Z merupakan kelompok yang paling aktif menggunakan platform digital. Namun, tanpa intervensi yang tepat, mereka justru berisiko semakin jauh dari akar budaya leluhur.
“Generasi Z adalah pemilik masa depan Jawa Tengah. Mereka tumbuh dengan TikTok, Instagram dan YouTube. Jika kita tidak memanfaatkan platform ini untuk mempromosikan budaya lokal, maka wayang, batik, gamelan dan kesenian tradisional lainnya hanya akan menjadi kenangan lama,” ujar Heri.
Heri mencontohkan bagaimana digital marketing dapat mengubah persepsi generasi muda terhadap budaya Jawa. Ia mendorong agar konten-konten kreatif seperti short video tutorial membuat batik modern, behind-the-scene pertunjukan wayang kulit dengan narasi kekinian, atau challenge tarian tradisional yang di-mix dengan musik kontemporer, disebarkan secara masif.
“Digital marketing bukan sekadar jualan produk, tapi juga membangun narasi bahwa budaya Jawa itu keren, relevan dan bisa menjadi sumber ekonomi,” ungkapnya.
“Kita bisa ciptakan UMKM berbasis budaya yang dikelola anak muda, sehingga pelestarian sekaligus pemberdayaan ekonomi berjalan beriringan,” tambahnya.
Heri menegaskan bahwa Jawa Tengah kaya akan warisan budaya. Namun, ia juga mengakui bahwa minat generasi muda terhadap budaya konvensional cenderung menurun akibat dominasi konten global.
Ia menyoroti bahwa banyak seniman dan pelaku budaya lokal masih kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas karena minimnya kemampuan digital.
“Kita perlu pelatihan digital marketing bagi sanggar-sanggar seni, desa wisata budaya dan komunitas pemuda,” tegas Heri.
“Ini bukan tanggung jawab satu pihak saja. Mari kita bangun ekosistem digital budaya Jawa Tengah yang kuat, sehingga generasi Z bukan hanya konsumen budaya asing, tapi juga produsen dan pewaris budaya sendiri,” pungkasnya.***