Membaca Langit Muria: Ketika 86 Burung Pemangsa Terekam dari Titik Pengamatan

photo author
Marko Komar, Pantura Network
- Senin, 10 Agustus 2026 | 08:52 WIB
Hasil survei populasi burung pemangsa langka di Lereng Gunung Muria, belum lama ini. (Istimewa for Pantura Network)
Hasil survei populasi burung pemangsa langka di Lereng Gunung Muria, belum lama ini. (Istimewa for Pantura Network)

Dengan kata lain, ketika kita menemukan raptor di sebuah kawasan, sebenarnya kita sedang melihat salah satu bagian dari jaringan kehidupan yang jauh lebih besar.

Hutan menyediakan ruang hidup, Mangsa menyediakan makanan. Pohon-pohon besar dapat menjadi tempat bertengger atau bersarang. Dan langit menjadi jalur pergerakan mereka.

Jika salah satu bagian dari sistem tersebut terganggu, kehidupan raptor juga dapat ikut terdampak.

Baca Juga: Cegah Penularan PMK, Pemkab Rembang Perketat Pengawasan di Pasar Hewan

Penelitian tentang ekologi elang Jawa di berbagai lokasi menunjukkan pentingnya habitat dan keberadaan pohon sarang bagi spesies ini. Kajian di kawasan pesisir Kondang Merak, misalnya, secara khusus mempelajari hubungan antara lokasi sarang, pohon sarang, dan karakteristik habitat elang Jawa.  

Itulah sebabnya pemantauan seperti di Pegunungan Muria menjadi penting.

Data yang dikumpulkan hari ini bisa menjadi pembanding untuk tahun-tahun berikutnya.

Baca Juga: Kitab Arudl Nuhudlul Kafi, Gus Abdullah Badri Lestarikan Ilmu Langka

Dari 86 Individu, Ada Cerita yang Lebih Besar

Jika disederhanakan, hasil survei tersebut terlihat seperti ini:

  1. Elang hitam: 22 individu
  2. Elang-ular bido: 18 individu
  3. Alap-alap sapi: 13 individu
  4. Elang brontok: 13 individu
  5. Elang Jawa: 10 individu
  6. Sikep-madu Asia: 9 individu
  7. Elang-alap jambul: 1 individu

Total: 86 individu dari tujuh jenis raptor yang tercatat. Tetapi angka tersebut bukanlah akhir dari cerita. Justru ini adalah sebuah titik awal.

Sebab dalam konservasi, yang paling penting bukan hanya mengetahui berapa banyak satwa yang terlihat hari ini. Yang lebih penting adalah mengetahui apakah mereka masih ada beberapa tahun kemudian, apakah wilayah jelajahnya berubah, apakah habitatnya tetap tersedia, dan apakah populasinya menunjukkan kecenderungan naik atau turun.

Baca Juga: Gus Yasin Ajak UIN Sunan Kudus Perkuat Kolaborasi Hadapi Perubahan Iklim

Terlebih untuk elang Jawa.

Burung yang menjadi salah satu simbol identitas Indonesia itu tidak hanya hidup sebagai gambar pada lambang negara. Ia benar-benar membutuhkan hutan, pepohonan, mangsa, dan ruang hidup di alam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Marko Komar

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X