PANTURA NETWORK -- Ada sesuatu yang menarik dari langit Pegunungan Muria. Dari bawah, mungkin yang terlihat hanya hamparan hijau dan sesekali burung yang melintas di antara awan. Namun ketika langit diamati dengan metode yang tepat, kawasan ini ternyata menyimpan cerita tentang kehidupan para pemangsa udara.
Sebuah kajian populasi burung pemangsa di Pegunungan Muria pada periode 14 Juni-15 Agustus 2025 merekam sedikitnya 86 individu raptor dari tujuh jenis. Pengamatan dilakukan menggunakan metode Vantage Point, yakni pengamatan dari sejumlah titik yang memungkinkan pengamat memantau pergerakan burung di kawasan yang luas.
Dari tujuh jenis tersebut, elang hitam (Ictinaetus malaiensis) menjadi yang paling banyak tercatat dengan 22 individu. Disusul elang-ular bido (Spilornis cheela) sebanyak 18 individu, alap-alap sapi (Falco moluccensis) dan elang brontok (Nisaetus cirrhatus) masing-masing 13 individu, elang Jawa (Nisaetus bartelsi) 10 individu, sikep-madu Asia (Pernis ptilorhynchus) 9 individu, serta elang-alap jambul (Accipiter trivirgatus) dengan satu individu.
Baca Juga: Jelang Iduladha, Jateng Pastikan Hewan Kurban Aman dan Sehat
Angka-angka itu memang terlihat seperti sekadar statistik. Tetapi jika dibaca dari perspektif konservasi, setiap angka merupakan potongan kecil dari cerita besar tentang ekosistem Muria.
Elang Jawa: Hanya 10 yang Terlihat, tetapi Paling Berarti
Di antara seluruh jenis yang tercatat, perhatian terbesar tentu tertuju kepada elang Jawa.
Dalam materi survei tersebut, terdapat 10 individu elang Jawa yang teramati. Spesies dengan nama ilmiah Nisaetus bartelsi ini merupakan satwa endemik Pulau Jawa dan berstatus Endangered atau terancam punah.
Elang Jawa juga dikenal sebagai salah satu satwa yang menginspirasi bentuk Garuda Pancasila. Penelitian ilmiah terbaru bahkan menyebutnya sebagai burung nasional Indonesia sekaligus predator penting dalam ekosistem.
Baca Juga: Ganjar: Pupuk Langka Karena Pemerintah Kurangi Kuota, Bukan Karena Kartu Tani
Karena itu, angka 10 dalam survei ini tidak seharusnya dibaca sebagai “hanya sepuluh ekor yang ada di Muria.
Lebih tepat jika angka tersebut dipahami sebagai 10 individu yang berhasil teramati dalam cakupan dan periode survei tersebut.
Perbedaan ini penting.
Burung liar tidak selalu berada di tempat yang mudah dilihat. Ada yang terbang di luar jangkauan pengamatan, bersembunyi di balik kanopi hutan, atau berada di wilayah jelajah yang berbeda ketika survei berlangsung.
Baca Juga: Mengenang 16 Tahun Wafatnya WS Rendra Sastrawan Burung Merak, Simbol Perlawanan
Artikel Terkait
PGN Dorong Kemandirian Petani, UMKM, dan Lingkungan Lewat Ragam Program Unggulan
Operasi Modifikasi Cuaca Digelar di Perairan Utara Jateng, Satu Ton NaCl Disemai
BMKG Prediksi Cuaca Mudik Jateng Kondusif, Hujan Ringan Masih Berpotensi Terjadi
Peringatan Hari Kartini, Ning Nawal Ajak Perempuan Jateng Bergerak Majukan Lingkungan Sekitar
BRI Slawi Tebar Kepedulian Lewat Kurban, Salurkan Daging untuk Warga dan Pekerja Dasar Lingkungan