PANTURA NETWORK -- Memasuki era digital, ilmu arudl atau syair arab kian tertelan oleh zaman. Oleh sebab itu, Ketua PC MDS Rijalul Ansor Jepara, Abdullah Badri mengarang Kitab Nuhudlul Kafi Fi Ilmi Arudl Wal Qowafi.
Gus Badri (sapaannya) menyatakan, sejumlah penyair melakukan penyimpangan dari kaidah ilmu Arudl. Daripada menyampaikan secara langsung, hemat dia, lebih baik mengingatkak melalui kitab yang dicetak tahun 2025 ini.
"Banyak penyimpangan ilmu syair, keterlaluan. Wazan (irama) rusak, remuk, dan yang membuat itu senior saya. Saya tidak berani untuk mengingatkan, jadi saya kira baiknya lewat kitab," papar Gus Badri, Rabu (27/8/2025).
Pihaknya menjelaskan, terdapat wazan ghorib (tidak dikenal) seperti bahar basith. Kasusnya banyak digunakan oleh penyair, ternyata ada menggunakan wazan dhorob (potongan akhir rima) faailaan, padahal ilegal.
Berangkat dari hal tersebut, ia menilai penting mempelajari ilmu arudl. Selain paham tentang syair arab, juga dapat membedakan dengan al-Qur'an yang pada zaman dahulu dianggap karangan syair Nabi Muhammad.
"Ilmu langka, karena sedikit yang mendalami ilmu milik Imam Kholil bin Ahmad ini. Padahal mempelajari ilmu arudl hukumnya fardhu kifayah. Manfaatnya banyak sekali," ujar pria asli Ngabul, Tahunan, Jepara ini.
Kesulitan mempelajari ilmu arudl, kata Gus Badri, karena penyair diwajibkan menguasai sejumlah perangkat tata bahasa arab, seperti balaghah, mantiq, nahwu, shorof, i'lal, i'rob, bayan, badi', sejarah dan masih banyak lagi.
Saking susahnya, ia memberi pesan ke sejumlah pembaca Kitab Nuhudlul Kafi supaya mempelajari secara khusus tentang wazan, mana yang boleh dan tidak boleh, jangan asal mengarah syair berbahasa arab lalu disebarkan.
"Sebab banyak yang mengarang (syair) akhrinya yang salah secara arudl. Sama kesalahan kita dalam ber-nahwu, jaa'a zaidun, dibaca jaa'a zaidin, dalam ilmu nahwu tidak boleh majrur, jadi harus seimbang keilmuannya," pungkas dia.
Baca Juga: Resep Siomay Bandung, Gurih dan Lembut Cocok untuk Cemilan Maupun Jualan
Sebagai informasi, pria berambut gondrong ini telah membuat beberapa syair seperti 'Bi Madrosah' (TBS Kudus), Sayyidun Najm (Guru TBS Kudus), Zahrul Miawiyah (100 Tahun TBS Kudus) dan masih banyak lagi.
Selain dunia syair, Gus Abdullah Badri juga mengarang beberapa Kitab, mulai dari Ta'liqot Jaliyatul Kadar, Riq Daqiq, Badil Badawi dan buku lainnya yang berkaitan dengan sosial politik hingga jurnalisme warga.
Artikel Terkait
Ansor Jateng: Barometer yang Ditendang Karateker
Ilmu Mahal dari Intelejen Baru : Pendidikan, Strategi, dan Taktik untuk Keamanan Negara
Ansor Lebaksiu Tegal Dilantik, Akan Fokus Pada Program Pendidikan
Apel Ansor Banser dan Kemah Bakti di Jepara, Mas Wiwit : Manifestasi Nyata Wawasan Kebangsaan
Biografi Lengkap Kiai Ahmad Fauzan Jepara dan Review Kitab Riwayah Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam