Jepara -- Pernahkah Anda memperhatikan gelang melingkar berbahan baja mengkilat yang melingkar di pergelangan tangan para jemaah haji Indonesia di Tanah Suci?.
Di balik kesederhanaannya, gelang pelindung nyawa dan identitas jutaan duyufurrahman itu ternyata lahir dari ketelatenan tangan-tangan pengrajin di sebuah sudut desa kecil di Jepara.
Kabupaten Jepara menyimpan potensi kriya logam yang luar biasa dan telah lama menjadi tulang punggung ekonomi warga. Berpusat di kawasan Kecamatan Kalinyamatan, khususnya Desa Kriyan, Bakalan, dan Margoyoso, tradisi menempa baja putih atau monel telah mengakar kuat secara turun-temurun sejak dekade 1950-an. Berawal dari industri skala rumah tangga, kriya monel di wilayah ini terus bertransformasi hingga mampu menembus pasar nasional dan internasional.
Logam monel dipilih dan terus dikembangkan bukan tanpa alasan. Olahan kriya khas Kalinyamatan ini memiliki karakter material yang sangat unggul: tahan karat, tidak gampang tergores, aman untuk kulit sensitif tanpa memicu alergi, serta makin mengkilat saat sering terkena keringat. Kualitas fisik yang kokoh dan tahan lama inilah yang membuat hasil olahan monel Jepara dipercaya oleh Kementerian Agama sebagai bahan baku utama pembuatan gelang identitas resmi jemaah haji Indonesia.
Baca Juga: Menyelami Kentrung Jepara, Seni Tutur Legendaris yang Sarat Makna dan Pesan Moral
Di tengah lautan jutaan manusia dari berbagai belahan dunia saat puncak ibadah haji di Makkah dan Madinah, gelang monel ini memegang peran yang sangat vital. Setiap bilah logam diukir secara presisi menggunakan informasi penting, mulai dari logo Garuda Pancasila, bendera Merah Putih, nomor paspor, nama jemaah, hingga detail kloter dan embarkasi asal. Jika jemaah tersesat, terpisah dari rombongan, atau mengalami kondisi darurat medis, gelang tahan banting inilah yang menjadi rujukan utama petugas lapangan untuk mengidentifikasi dan menolong mereka.
Proses pembuatan gelang haji ini menuntut ketelitian tinggi dan teknik pengerjaan yang terus dirawat oleh para pengrajin. Lembaran baja tahan karat dipotong sesuai dimensi standar, dipanaskan, diukir grafir identitasnya satu per satu, dibentuk melingkar dengan alat pres khusus, hingga melalui tahap pemolesan akhir (finishing) agar lekukannya halus dan nyaman di kulit. Ketangguhan material monel memastikan gelang ini tidak akan pudar, patah, atau rusak meski terpapar sengatan cuaca gurun yang terik.
Perkembangan industri kriya monel di Kalinyamatan menjadi bukti nyata bagaimana keahlian lokal dari tingkat desa mampu memberikan kontribusi besar bagi keselamatan warga negara di kancah global. Setiap kali musim haji tiba, bengkel-bengkel kerajinan di desa tersebut selalu berdenyut kencang memproduksi ratusan ribu gelang identitas demi melayani jemaah dari seluruh penjuru Nusantara.
Baca Juga: Dari Turuk Bintol sampai Adon-Adon Coro, Ini Deretan Kuliner Jepara yang Namanya Bikin Penasaran
Inovasi dan konsistensi pengrajin monel Jepara membuktikan kekuatan industri kreatif berbasis komunitas yang tangguh. Sebuah warisan kriya logam yang tidak hanya terus beradaptasi menggerakkan roda ekonomi daerah, tetapi juga melekat erat dalam perjalanan spiritual jutaan jemaah Indonesia saat menunaikan rukun Islam kelima.***
Artikel Terkait
Jepara Perkuat Pemberantasan Rokok Ilegal, 17.968 Batang Diamankan dalam Operasi Gabungan
Job Fair Jateng Perluas Akses Kerja, Disabilitas Turut Jadi Sasaran
Mahasiswa 14 Negara Belajar Langsung Ukir Jepara
Dari Turuk Bintol sampai Adon-Adon Coro, Ini Deretan Kuliner Jepara yang Namanya Bikin Penasaran
Menyelami Kentrung Jepara, Seni Tutur Legendaris yang Sarat Makna dan Pesan Moral