PANTURA NETWORK -- Tradisi sedekah bumi di Desa Telukwetan, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, kembali digelar meriah pada Minggu (12/4/2026).
Tahun ini, perayaan tidak hanya menjadi wujud syukur masyarakat, tetapi juga panggung promosi kerajinan anyaman khas desa yang telah bertahan sejak era 1970-an.
Petinggi Desa Telukwetan, Budi Santosa menyampaikan, konsep sedekah bumi 2026 sengaja mengangkat gunungan hasil bumi yang dipadukan dengan kreasi anyaman.
Baca Juga: ASN Jateng Harus Bergerak Cepat, Luthfi Dorong Budaya Kerja Responsif
Berbagai bentuk unik ditampilkan, mulai dari burung garuda, ayam, hingga merak, yang seluruhnya dibuat dari bahan alami maupun sintetis.
"Ini bentuk rasa syukur masyarakat sekaligus upaya mengayubagyo tahun 2026. Desa kami dikenal sebagai desa anyaman, jadi kami ingin mengangkat identitas itu," papar Budi Santosa.
Arak-arakan gunungan menjadi pembuka rangkaian acara yang dimulai sejak pagi hari. Gunungan yang diarak oleh warga dari masing-masing RT nantinya akan dikembalikan ke lingkungan masing-masing untuk kemudian diolah bersama dalam kegiatan memasak pada malam hari.
Selain sebagai tradisi, kegiatan ini juga dimaknai sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan dan menghidupkan kembali sektor kerajinan anyaman yang belakangan mengalami penurunan omzet.
"Anyaman ini bukan sekadar budaya, tapi juga sumber ekonomi warga. Dengan kegiatan ini, kami ingin mendorong kembali minat masyarakat dan pasar," imbuhnya.
Rangkaian sedekah bumi Telukwetan berlangsung selama beberapa hari hingga Rabu malam. Pada hari pertama, Minggu (12/4), kegiatan diawali dengan arak-arakan gunungan anyaman dan hasil bumi pukul 08.00 WIB, dilanjutkan selametan di tiga punden desa pada pukul 15.30 WIB, serta tradisi obor-obor di empat penjuru desa selepas Maghrib.
Agenda berlanjut pada Selasa (14/4) dengan kirab Grebeg Tumpeng Telon yang dimulai dari Gumuk Telon menuju balai desa pukul 18.45 WIB, disusul selametan di balai desa pukul 21.00 WIB.