daerah

Ketika Kambing Jawa Randu Menjadi Tulang Punggung Ekonomi Desa di Jepara

Kamis, 29 Januari 2026 | 19:08 WIB
Salah satu peternak kambing Jawa Randu di Jepara sedang memberi pakan, Kamis (29/1/2026) (Istimewa for Pantura Network)

PANTURA NETWORK -- Pagi belum sepenuhnya terang ketika suara embikan kambing memecah kesunyian Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara. Di balik kandang-kandang kayu yang ditinggikan dari tanah, roda ekonomi desa perlahan berputar. Di tempat inilah, kambing Jawa Randu menjadi penyangga hidup puluhan keluarga petani dan peternak.

Bagi warga Plajan dan Desa Suwawal Timur, Jawa Randu bukan sekadar ternak. Ia adalah tabungan hidup, sumber harapan, sekaligus bukti bahwa ekonomi rakyat bisa tumbuh dari usaha sederhana yang dikelola dengan kebersamaan.

Sejak 2007, Hadi Purnomo memimpin Kontak Tani Ternak (KTT) Desa Plajan. Dua puluh dua anggota kelompok ini memulai langkah mereka dari hal yang sama, dua indukan kambing per orang. Sistem ini sengaja dipilih agar setiap anggota memiliki kesempatan yang setara.

Baca Juga: Banjir Pekalongan, Gus Yasin Tegaskan Warga Bisa Laporkan Kebutuhan Langsung

Hasilnya tidak selalu manis. Musim hujan kerap membawa masalah, rumput berkurang, penyakit mudah menyebar, dan harga kambing turun tanpa aba-aba. Anak kambing jantan usia empat bulan kini hanya laku sekitar Rp1,5 juta, sementara betina bahkan belum mencapai Rp500 ribu.

Namun, bagi Hadi dan anggotanya, kandang bukan tempat menyerah. "Jawa Randu itu dagingnya banyak, cepat besar, dan harganya masih masuk akal. Kalau PE mahal, tapi dagingnya tidak sebanding," ujarnya.

Pendampingan dari DKPP Kabupaten Jepara, PPL, hingga BPKH Jawa Tengah menjadi penopang penting. Mulai dari manajemen pakan, kebersihan kandang, hingga penanganan kesehatan, semua dilakukan secara kolektif.

Baca Juga: Jateng–Jatim Tingkatkan Kerja Sama Ekonomi, Target Rp4,3 Triliun Lima Tahun

Di Desa Suwawal Timur, cerita serupa tumbuh dengan skala yang lebih besar. KTT Ayo Maju 2 di bawah pimpinan Komari kini mengelola 332 ekor kambing Jawa Randu. Penyakit kulit, batuk, pilek, hingga gangguan mata sempat menggerus produktivitas.

Pelatihan silase dan teknik perawatan menjadi titik balik. Perlahan, angka kematian ternak ditekan, dan kas kelompok pun terjaga hingga Rp6 juta-angka yang bagi ekonomi desa bukan hal kecil.

Saat harga kambing anjlok, Komari tak tinggal diam. "Kalau harga turun, kita jual lewat online. Sudah ada pengepul tetap, jadi tidak sepenuhnya bergantung pasar," katanya.

Baca Juga: Jatim dan Jateng Bertemu dalam Misi Dagang, Transaksi Capai Rp2,9 Triliun

Digitalisasi sederhana yang mengandalkan ponsel dan jejaring pengepul menjadi strategi bertahan di tengah pasar yang fluktuatif.

Ekonomi rakyat di dua desa ini tak berhenti di penjualan kambing. Limbah ternak justru menjadi mata rantai berikutnya. Di Plajan, setiap anggota menyetor satu sak limbah per bulan untuk diolah menjadi pupuk organik. Di Suwawal Timur, kotoran kambing difermentasi dengan disinfektan dan tetes tebu selama 21 hari.

Pupuk itu kembali ke sawah dan ladang anggota. Biaya produksi pertanian ditekan, hasil panen meningkat. Sebuah siklus ekonomi desa yang nyaris tanpa limbah.

Halaman:

Tags

Terkini