Prabowo memproduksi dua varian kopi lokal khas Jepara, yaitu robusta dan excelsa (kopi nangka), dengan harga masing-masing Rp180 ribu dan Rp220 ribu per kilogram. Ia mengaku pasarnya besar, tapi akses ke rak swalayan masih tertutup rapat.
Baca Juga: Sosialisasi Program MBG di Rembang Diperluas, Jadi Investasi Jangka Panjang untuk SDM Unggul
Mendengar keluhan ini, Bupati Witiarso Utomo merespons cepat. Ia menyatakan akan menelusuri dan memastikan terkait perjanjian antara pihak ritel dan pemerintah daerah yang seharusnya memberi ruang bagi produk UMKM lokal.
Baca Juga: Dari Batu Bara Hingga Cahaya: PLN UIK Tanjung Jati B Hadirkan Keandalan Listrik Untuk Rakyat
"Saya sudah perintahkan Disperindag untuk cek dan tindak lanjuti. Kalau memang ada MoU atau kerja sama yang menjanjikan ruang untuk UMKM, itu harus ditegakkan. Jangan sampai produk Jepara tak punya tempat di tanahnya sendiri," tegas Bupati.
Ia menambahkan, semangat UMKM di desa-desa seperti Batealit harus diiringi dengan dukungan nyata dari semua pihak, termasuk korporasi retail.