Sukacita Para Penjaga Gizi Anak Sekolah Bisa Bekerja di Dapur MBG

photo author
Marko Komar, Pantura Network
- Selasa, 14 Oktober 2025 | 17:03 WIB
FOKUS : Petugas MBG di Kudus sedang proses pengemasan MBG, Selasa (14/10/2025). (Istimewa for Pantura Network )
FOKUS : Petugas MBG di Kudus sedang proses pengemasan MBG, Selasa (14/10/2025). (Istimewa for Pantura Network )

PANTURA NETWORK -- Suara denting panci terdengar dari dapur yang sibuk di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jalan Pattimura, Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Di sana, Tri Sugianto (58), berdiri bersama rekan-rekannya yang tengah menyiapkan makan siang bagi ratusan siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Dengan seragam sederhana dan wajah ramah, ia bercerita tentang perjalanan hidupnya, dari pedagang angkringan hingga menjadi pengawas dapur program pemerintah ini.

“Saya dulu jualan angkringan di GOR. Menunya kopi dan makanan ringan,” kata Tri membuka cerita.

Baca Juga: Siswa Kenyang Makan Bergizi Gratis dan Bisa Nabung Rp 5 Ribu Per Har

Hidupnya mulai berubah ketika seorang rekan menawarkan pekerjaan di dapur penyedia makanan untuk program MBG. 

“Saya mau, dan akhirnya mulai bekerja di sini sejak bulan April. Sampai sekarang,” ujarnya. Bagi Tri, pekerjaan di dapur bukan sekadar mencari nafkah. 

“Rasanya ringan, Mas. Tapi yang paling saya suka, di sini suasananya penuh kekeluargaan. Kami semua seperti keluarga,” tuturnya sambil tersenyum.

Baca Juga: Kecelakaan Maut di Jalan Jepara-Bangsri, Satu Pengendara Sepeda Motor Tewas di Tempat

Sebagai pengawas dapur, Tri bertanggung jawab memastikan proses penyajian makanan berjalan sesuai waktu. 

“Kadang kita dikejar waktu, harus selesai jam 11 tapi semua dikerjakan bareng-bareng,” katanya.

Sebelum bergabung dengan dapur MBG, penghasilan Tri hanya berasal dari angkringan kecil. Kini, tambahan pekerjaan itu membuat ekonominya lebih stabil. 

Baca Juga: Dukung Pemeriksaan BPK, Ahmad Luthfi Ingin Pemerintahan Jateng Makin Akuntabel

“Jelas bertambah. Waktu pertama kerja di sini, anak saya masih kuliah. Jadi bisa bantu biaya kos dan kebutuhan lainnya,” katanya.

Kini, anak Tri sudah bekerja di salah satu rumah sakit, dan istrinya juga ikut bekerja. “Alhamdulillah, kehidupan sekarang cukup. Tambahan dari sini sangat membantu,” ujarnya.

Tri mengaku, sebagian besar penghasilan tambahan digunakan untuk keperluan rumah tangga dan menabung. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Marko Komar

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X