PANTURA NETWORK -- Ketua PKC PMII Jateng, Ahmad Farichin pilih Wisma Perdamaian sebagai lokasi pelantikan jajarannya. Sebagai tempat kegiatan awal periode, ternyata ia memiliki alasan tersendiri.
Farichin (sapaannya) menjelaskan, dirinya sengaja memilih Wisma Perdamaian sebagai lokasi pelantikan adalah tanda rampungnya momen politik dan simbol korelasi dengan tema 'Kolektif Kolaboratif'.
"Konstelasi politik 2024 telah usai, jadi kami perlu merajut hubungan dengan damai. Begitupun kolektif dan kolaboratif, sebagai kader PMII dapat bergerak di ruang manapun," papar Farichin saat dihubungi Pantura Network, Sabtu (2/8/2025).
Baca Juga: Jaga Warisan Budaya, Gubernur Jateng Usul Pencak Silat Masuk Kurikulum Sekolah
Tidak hanya itu, bagi dia, Wisma Perdamaian merupakan rumah rakyat Jawa Tengah. Diharapkan, kondisi daerah ini ke depan dan selamanya berjalan dengan baik, damai dan kondusif.
"Tadi pelantikan juga berjalan lancar dan damai, tanpa halangan suatu apapun. Ini adalah tanda sekaligus harapan perjalanan organisasi PMII selama satu periode ke depan berlangsung damai sebagaimana tempatnya," ujar dia.
Sebagai informasi, Wisma Perdamaian berada di Jalan Imam Bonjol No.209, Pandrikan Kidul, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang tepat sebelah Barat Tugu Muda, merupakan bangunan kuno dan bersejarah.
Baca Juga: PKC PMII Jateng 2025/2027 Dilantik, Ahmad Farichin Usung Tagline Kolektif Kolaboratif
Dengan luas lahan sekitar 15.000 m² dan total luas bangunan 6.500 m², bangunan berwarna putih ini telah berusia lebih dari 250 tahun. Meski begitu, Wisma Perdamaian masih nampak gagah sebagai icon Provinsi Jawa Tengah.
Melansir dari laman Humas Pemprov Jateng, Wisma Perdamaian pertama kali dibangun pada tahun 1754 dan dirancang oleh Gubernur Pantai Utara Jawa (1754-1761), Nicolaas Harting atau sosok di balik Perjanjian Giyanti (1755).
Menurut Guru Besar Arsitektur Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Totok Roesmanto, gedung ini adalah rumah dinas petinggi VOC yang menjabat sebagai Gouverneur Van Java's Noord-Oostkust (Gubernur Jawa Utara Bagian Pesisir Timur).
Baca Juga: Pencurian dan Penganiayaan di Bangsri Ditangkap Polres Jepara, Begini Faktanya
Selain pertama kali dipakai sebelum 1755 menjelang perjanjian Giyanti, juga menjadi bagian dari rancangan pelebaran kota dari wilayah Kota Lama menuju ke arah Karang Asem (sekarang Randusari).
Sementara itu, sebuah penelitian dalam Jurnal TESA Arsitektur, Universitas Katolik Soegijapranata (2022) dijelaskan, bangunan ini awalnya adalah kediaman atau rumah pribadi dari gubernur.
Semula gedung ini dikenal sebagai Rumah 'Zigtrijk' atau juga dikenal sebagai Rumah 'Bodjong'. Seiring berjalannya waktu, nama 'Vredestein' dan dua tadi tidak lagi digunakan untuk menyebut bangunan ini.
Artikel Terkait
Hari Raya Idul Adha, PB PMII Bagi Dua Kambing di Kota Semarang
Cetak Kader Militan, PC PMII Kota Semarang Sukses Selenggarakan PKL
Olahraga Lari Makin Ngetren di Jateng, Mekarkan Ekonomi dan Bugarkan Jasmani
Stabilkan Harga dan Tingkatkan Daya Beli Masyarakat, Pemprov Jateng Intensifkan Gerakan Pangan Murah
PKC PMII Jateng 2025/2027 Dilantik, Ahmad Farichin Usung Tagline Kolektif Kolaboratif