PANTURA NETWORK -- Jagat media sosial warga Jepara diguncang kabar duka pada Minggu (25/1/2026) pagi. Seorang remaja bernama Ary Saputra, warga Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, dilaporkan meninggal dunia usai diduga menjadi korban pengeroyokan setelah pentas dangdut "Camelia" di Desa Guyangan, Kecamatan Bangsri, Sabtu (24/1/2026) malam.
Informasi tersebut pertama kali mencuat melalui unggahan akun media sosial @NggosulHidayat, yang dengan cepat menyebar luas dan memicu gelombang simpati, duka mendalam, sekaligus kemarahan warganet. Ary diketahui sehari-hari bekerja sebagai kru sound system dan berada di sekitar lokasi acara saat insiden kekerasan terjadi.
Berdasarkan penelusuran dari sejumlah unggahan media sosial yang beredar, keributan terjadi sekitar pukul 23.00 WIB. Situasi di sekitar lokasi pentas disebut memanas, hingga berujung pada aksi kekerasan.
Dalam kondisi luka parah, Ary segera dilarikan ke RSUD di Jepara untuk mendapatkan penanganan medis intensif. Namun, upaya penyelamatan nyawa tak membuahkan hasil.
Sekitar pukul 07.00 WIB, Minggu pagi, korban dinyatakan meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan dalam kondisi kritis.
Jenazah Ary kemudian dipulangkan ke rumah duka di Desa Tulakan RT 06 RW 07, Kecamatan Donorojo, setelah proses administrasi rumah sakit rampung. Prosesi pemakaman dilaksanakan pada pukul 10.21 WIB di tempat pemakaman setempat, diiringi isak tangis keluarga dan warga.
Tragedi tersebut semakin menyayat hati setelah muncul kesaksian dari akun media sosial @Pa€e, yang mengaku berada di lokasi kejadian. Dalam unggahannya, ia menyampaikan penyesalan mendalam karena tak mampu menolong korban.
"Wong Ndrojo ninggal. Posisinya pas dikeroyok di depanku, tapi karena aku berangkat cuma berdua, aku tidak berani berbuat apa-apa," tulisnya.
Kesaksian ini memperkuat dugaan bahwa korban menjadi sasaran pengeroyokan oleh sekelompok orang saat kericuhan berlangsung.
Kematian Ary memantik kemarahan publik. Banyak warga Jepara menilai peristiwa ini sebagai alarm keras atas lemahnya pengamanan dalam acara hiburan rakyat yang melibatkan massa besar.
"Seharusnya jadi hiburan, bukan ajang nyawa melayang," demikian nada kritik yang ramai disuarakan warganet.
Masyarakat mendesak aparat kepolisian* untuk segera mengusut tuntas kasus ini, mengidentifikasi dan menangkap para pelaku, serta mengevaluasi secara menyeluruh izin dan sistem pengamanan acara keramaian, khususnya pentas hiburan malam hari.