daerah

Sarung Batik bagi ASN Pemprov Jateng, Gus Yasin: Angkat Ekonomi dan Lestarikan Warisan Budaya

Sabtu, 29 November 2025 | 13:08 WIB
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin usai mengikuti Rapat Paripurna tentang Rancangan Peraturan Daerah Tahun Anggaran (TA) 2026 di Gedung Berlian-DPRD Jateng, Jl Pahlawan Kota Semarang, Jumat (28/11/2025). (Istimewa for Pantura Network)

PANTURA NETWORK -- Terobosan baru dilakukan Pemprov Jateng untuk mengatrol perekonomian Jawa Tengah. Salah satunya, setiap Jumat, Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemprov Jateng diwajibkan mengenakan bawahan berupa sarung. Bukan asal sarung, tetapi sarung batik atau lurik. Sehingga penjualan sarung akan meningkat. 

Hal itu dikatakan Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin). Dia katakan, sarung merupakan kekhasan yang dimiliki masyarakat Indonesia. Sarung juga bukan identitas umat salah satu agama, karena sudah lazim digunakan masyarakat lintas agama sebagaimana peci hitam. Melalui kebijakan sarung batik atau lurik ini, Pemprov membantu UMKM untuk berkembang. 

"Sarung (batik dan lurik) itu kan khas, pakaian adat ya. Jadi sebagian masyarakat, bukan hanya muslim saja yang memakai sarung," katanya, usai mengikuti Rapat Paripurna tentang Rancangan Peraturan Daerah Tahun Anggaran (TA) 2026, di Gedung Berlian-DPRD Jateng, Jl Pahlawan Kota Semarang, Jumat, 28 November 2025.

Baca Juga: Bumi Menghadapi Titik Kritis, FISIP Undip Ajak Publik Menata Ulang Paradigma Ekologis

Dia mencontohkan, penggunaan peci hitam yang kerap digunakan oleh masyarakat dalam sejumlah aktivitas. Bahkan dalam berbagai kunjungan kenegaraan, pejabat juga mengenakan peci hitam. Artinya, pemakaian sarung batik/lurik khususnya di lingkungan Pemerintah Provinsi Jateng ini tak ada kaitan dengan identitas salah satu agama.

Apalagi, kata Taj Yasin, batik khas Indonesia sudah diakui United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco) sebagai warisan budaya tak benda pada 2019. 

Dia mengatakan, penggunaan sarung batik/lurik oleh ASN Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga berdampak dari sisi ekonomi. Hal ini sesuai ketentuan dan petunjuk yang diberikan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Baca Juga: Kunjungan Wisata Meningkat, Sekda: Buat Wisatawan Nyaman agar Ekonomi Daerah Terangkat

"Jadi hasil kajian kita, dan dari aturan yang diatur oleh Mendagri untuk pakaian (ASN). Menimbang, bagaimana pakaian seragam di pemerintahan itu bisa menumbuhkan perekonomian," katanya.

Ilustrasi pakaian dinas di Jawa Tengah. (Istimewa for Pantura Network)

Ada pertimbangan dan alasan mengapa memilih sarung motif batik dan lurik. Sejalan dengan itu, diharapkan penggunaannya mampu menyerap produksi dari pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).  

"Kita tujukan untuk (sarung) batik (lurik), sehingga pembelian sarung dari UMKM yang ada di Jawa Tengah ini akan lebih meningkat," ucap pria asal Kabupaten Rembang tersebut.

Baca Juga: Pemprov Siapkan 365 Event, Jateng Incar Pertumbuhan Ekonomi Lewat Pariwisata 2026

Dia juga menyampaikan, bila produk sarung batik/lurik produksi Indonesia juga sudah go internasional atau merambah pasar dunia. Seperti, diekspor ke Eropa Afrika, Asia, termasuk (negara) Arab.

Namun begitu, Taj Yasin menerima kritik publik tentang pemakaian sarung batik/lurik oleh ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Jateng. Adanya protes, menjadi sesuatu yang dinamis.

Halaman:

Tags

Terkini