PANTURA NETWORK -- Suasana Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, dipenuhi keceriaan dan semangat warga dalam merayakan tradisi budaya Jembul Tulakan yang digelar setiap tahun pada hari Senin Pahing di bulan Apit (kalender Jawa).
Tahun ini, acara yang berlangsung pada Senin (14/7/2025) ini berhasil menarik ribuan pengunjung, menjadikannya momen yang tak terlupakan bagi masyarakat setempat.
Kehadiran Bupati Jepara, Witiarso Utomo, beserta Wakil Bupati M Ibnu Hajar dan Pj Sekda Ary Bachtiar menambah kemeriahan perayaan.
Baca Juga: BULOG Jateng Mulai Distribusikan Beras SPHP ke Pasar, Target Capai 158 Ton Hingga Desember 2025
Dalam sambutannya, Bupati Witiarso Utomo mengungkapkan rasa syukurnya atas pelestarian budaya lokal yang dilakukan oleh masyarakat Tulakan.
"Alhamdulillah, tradisi Jembul Tulakan berjalan lancar dan disambut penuh antusias. Semoga ini menjadi berkah bagi Desa Tulakan," papar Witiarso Utomo.
Tradisi Jembul Tulakan bukan sekadar festival biasa. Petinggi Desa Tulakan, Budi Sutrisno, menjelaskan bahwa acara ini memiliki akar sejarah yang dalam, terinspirasi dari kisah spiritual Kanjeng Ratu Kalinyamat.
Baca Juga: Anggota DPR Ajak Masyarakat Waspada Oknum Penipu Tawarkan Jadi Mitra Dapur Program MBG
Ratu yang dikenal karena perannya dalam perjuangan dan kepemimpinan ini, dikisahkan bertapa di Gunung Donorojo, memanjatkan doa dan harapan setelah kehilangan suaminya, Sultan Hadlirin.
"Dari laku spiritual Ratu Kalinyamat, lahir sumpah yang terkenal, ‘ora ingsun topo, budar ingsun sedurunge keset jambule Aryo Penangsang’. Istilah Jembul pun muncul dari sini, melambangkan syukur kepada Allah SWT melalui sedekah bumi," jelas Budi.
Jembul Tulakan terdiri dari dua bagian, yaitu Jembul Lanang dan Jembul Wedok. Jembul Lanang berisi hasil bumi, sementara Jembul Wedok berisi berbagai lauk pauk.
Baca Juga: Jelang Konser Gratis Denny Caknan, Bupati Jepara Cek Langsung Kesiapan Alun-Alun
Kedua jembul ini dihias dengan irisan bambu dan pernak-pernik kain, mencerminkan kearifan lokal dan keindahan budaya Tulakan.
Acara ini tak hanya melibatkan masyarakat lokal, tetapi juga parade budaya yang menampilkan empat tokoh punggawa cerita rakyat : Said Usman, Suto Mangun Joyo, Mbah Leseh, dan pasukan prajurit yang mewakili wilayah dukuh Kerajan, Kamituwo, Winong, Ngemplak, dan Drojo.
Keberadaan tokoh-tokoh ini menambah daya tarik dan kedalaman makna acara, membawa pengunjung pada perjalanan sejarah yang kaya.