Perjalanan Mahasiswa UIN Kediri Menebar Cinta Kasih di Rumah Kemanusiaan GUSDURian Mojokutho Pare

photo author
Marko Komar, Pantura Network
- Minggu, 23 November 2025 | 14:38 WIB
Sejumlah mahasiswa UIN Kediri melakukan interaksi dengan keluarga orang tua lansia di Rumah Kemanusiaan Pare, Kediri, Minggu (23/11/2025). (Istimewa for Pantura Network)
Sejumlah mahasiswa UIN Kediri melakukan interaksi dengan keluarga orang tua lansia di Rumah Kemanusiaan Pare, Kediri, Minggu (23/11/2025). (Istimewa for Pantura Network)

PANTURA NETWORK -- Suasana penuh kehangatan dan canda tawa menyambut kedatangan 20 mahasiswa Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Universitas Islam Negeri (UIN) Syeikh Wasil Kediri di Rumah Kemanusiaan GUSDURian Mojokutho, Pare, Kabupaten Kediri, Minggu (23/11/2025). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran lapangan mengenai konseling dan pendampingan psikologis bagi lanjut usia.

Rumah Kemanusiaan GUSDURian - yang selama ini dikenal sebagai ruang pengabdian berbasis nilai-nilai kemanusiaan yang diwariskan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) - kembali membuka pintunya sebagai tempat belajar empati dan kemanusiaan hubungan sosial.

Ketua Kelas dari UIN Kediri, Rahmatul Layly Isroah, mengungkapkan rasa harunya ketika pertama kali mengobrol dengan para lansia. Ia menyadari bahwa konseling bukan hanya tentang teori atau metode psikologi, melainkan bagaimana menautkan hati dengan hati.

Baca Juga: Kawasan Industri Wajib Terapkan Sistem Perlindungan Hak Anak Terintegrasi

"Orang tua itu sensitif. Kita harus lebih lembut, lebih sabar, dan benar-benar mendengarkan,” ujar mahasiswi yang akrab disapa Rara tersebut.

"Kadang hanya niat menyapa, tapi ternyata menjadi momen berarti bagi mereka. Ada yang tiba-tiba minta salim (berjabat tangan). Mereka butuh perhatian, dan kita juga harus mengerti kebutuhannya," imbuhnya.

Menurutnya, pengalaman ini mengubah perspektif banyak mahasiswa yang sebelumnya memandang panti lansia sebagai tempat yang penuh kesunyian dan air mata. Nyatanya, di Rumah Kemanusiaan GUSDURian, suasana justru penuh keakraban dan kebahagiaan.

Baca Juga: Penguatan Bantuan Hukum di Daerah, BKOW Siapkan Paralegal Komunitas

"Selama ini hanya tahu di Media Sosial (Medsos), tapi di sini (Rumah Kemanusiaan GUSDURian) berbeda. Ternyata fasilitasnya memadai, dan semua kebutuhan baik fisik dan emosionalnya terpenuhi," jelas dia.

Mahasiswa juga belajar memahami kondisi psikologis lansia yang tak jarang mengalami kesepian atau gangguan memori. Rara menuturkan, meskipun percakapan kadang tidak nyambung, mereka berupaya menyesuaikan ritme agar lansia tetap merasa ditemani dan dipahami.

Di sisi lain, kunjungan ini mendapat apresiasi penuh dari Asri Wulandari, Koordinator Program Sinau Bareng GUSDURian (Sibagus) Mojokutho Pare Kediri. Ia menilai kehadiran mahasiswa memberi energi positif bagi para lansia yang tinggal di rumah tersebut.

Baca Juga: Tak Hanya Retorika dan Angan, Bupati Wiwit Penuhi Jepara Mulus

“Kami berterima kasih atas waktu dan perhatian yang diberikan. Para lansia senang sekali mendapatkan teman bercerita, dan itu sangat berarti bagi mereka,” ungkap Aas (sapaannya).

Aas menjelaskan bahwa Rumah Kemanusiaan GUSDURian berlandaskan pada nilai-nilai Gus Dur: menjunjung tinggi martabat manusia, keberpihakan kepada minoritas, serta memperluas kemanfaatan sosial. Tidak hanya bagi lansia, layanan juga menyasar anak-anak marjinal melalui program pendidikan berkelanjutan.

"Kami rutin mengadakan kegiatan mengaji setiap Selasa untuk para lansia. Lalu setiap Jumat dan Sabtu kami mendampingi anak-anak, termasuk kelas Bahasa Inggris dan pembelajaran umum, agar kemampuan dasar mereka meningkat," jelasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Marko Komar

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X