Kirab Budaya Gerakkan Dagangan Pedagang Kecil

photo author
Muhammad Abdul Wahab, Pantura Network
- Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:29 WIB
Pedagang es krim melayani pembeli di Kirab Budaya Merah Putih Kabupaten Jepara  (Istimewa for Pantura Network )
Pedagang es krim melayani pembeli di Kirab Budaya Merah Putih Kabupaten Jepara (Istimewa for Pantura Network )

Jepara -- Kirab Budaya Merah Putih Jepara tak hanya menyajikan parade budaya. Keramaian peserta dan penonton ikut meningkatkan penjualan pedagang kecil di sepanjang kegiatan.

Penjual es krim keliling, Firman Maulana, mengatakan dagangannya lebih laris dibandingkan hari biasa. Saat peserta PAUD tampil, hampir satu ember es krim berkapasitas delapan liter habis.

"Alhamdulillah ada kenaikan. Baru tingkat TK PAUD saja, satu ember hampir habis," kata Firman, Selasa (18/8/2026).

Firman yang berjualan es krim keliling sejak lima tahun lalu, menambah stok untuk mengantisipasi ramainya pembeli. Biasanya, satu ember berisi delapan liter es krim habis dalam sehari.

Baca Juga: Suara Antea Hidupkan Kembali Karya WR Soepratman di Hari Jadi ke-81 Jateng

Es krim yang dijual terdiri atas rasa vanila, cokelat, dan stroberi. Varian cokelat dan vanila menjadi pilihan yang paling banyak dicari pembeli.

Pedagang mainan keliling, Nor Ahmad, juga menjual dagangannya di tengah keramaian kirab. Warga Desa Karanganyar, Kecamatan Welahan, itu menyebut kitiran dan balon paling banyak dicari.

Kitiran dijual Rp10 ribu untuk tiga buah. Menurut Nor, pembeli cenderung mencari mainan dengan harga murah.

Di sisi lain, kirab juga menjadi ruang pengenalan tradisi Jepara kepada anak-anak. Salah satunya melalui penampilan Obor Tegalsambi oleh TK Terpadu Tarbiyatul Athfal Muslimat NU Jepara, Kelurahan Demaan, Kecamatan Jepara.

Baca Juga: 81 Tahun Jateng, Capaian Bertambah, Harapan Terus Tumbuh

Guru pendamping, Lia, mengatakan persiapan penampilan tersebut berlangsung sekitar dua minggu. Tradisi itu dikemas dengan kostum modern agar mudah diterima generasi sekarang. "Tantangannya menyiapkan anak-anak usia dini. Kami harus mengenalkan bahwa tradisi ini perlu dilestarikan," ujarnya.

Kirab tersebut diikuti 59 nomor atau kelompok peserta. Peserta berasal dari PAUD, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, serta kelompok umum.

Penonton juga menjadi bagian dari keramaian tersebut. Ana, warga Desa Mulyoharjo, Kecamatan Jepara, datang bersama tiga anaknya untuk menyaksikan kirab.

Ia tertarik melihat tradisi Jepara yang ditampilkan peserta. Di antaranya Perang Obor, Pesta Lomban, serta tokoh sejarah seperti Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, dan R.A. Kartini.

"Anak saya paling suka melihat drumband," kata Ana.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Muhammad Abdul Wahab

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kirab Budaya Gerakkan Dagangan Pedagang Kecil

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:29 WIB
X