Karnaval Kemerdekaan, Saat Anak-anak SLB Negeri Semarang Menunjukkan Mimpi dan Cita-cita

photo author
Muh Akhsan, Pantura Network
- Kamis, 20 Agustus 2026 | 12:50 WIB
Karnaval Kemerdekaan, Saat Anak-anak SLB Negeri Semarang Menunjukkan Mimpi dan Cita-cita
Karnaval Kemerdekaan, Saat Anak-anak SLB Negeri Semarang Menunjukkan Mimpi dan Cita-cita

“Kostum idola ini membentuk mindset anak-anak untuk mempunyai cita-cita. Mereka punya cita-cita seperti yang mereka harapkan, sehingga nantinya mereka akan bertumbuh sesuai cita-citanya,” kata Aris.

Berjalan Bersama Merayakan Kemerdekaan

Setelah seluruh peserta siap, rombongan karnaval bergerak dari sekolah menuju kawasan Artomoro. Jarak yang ditempuh sekitar satu kilometer sebelum mereka kembali ke sekolah.

Para orang tua ikut mendampingi, terutama siswa yang membutuhkan bantuan selama perjalanan.

Bagi mereka, perjalanan tersebut bukan sekadar menempuh jarak. Ada pengalaman untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan tampil di hadapan masyarakat.

Kehadiran anak-anak SLB di ruang publik sekaligus menunjukkan bahwa mereka merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki hak yang sama untuk menikmati kemeriahan perayaan kemerdekaan.

Aris mengatakan, kesempatan tersebut menjadi salah satu tujuan utama kegiatan.

“Output yang pertama memberikan kebahagiaan buat mereka. Anak-anak berkebutuhan khusus ini tidak banyak diberi kesempatan. Kami ingin memberi kesempatan kepada mereka untuk merayakan Indonesia merdeka,” ujarnya.

Ia berharap kebahagiaan yang dirasakan siswa dapat menjadi energi positif untuk meningkatkan semangat belajar dan berkembang.

Sebab, bagi anak-anak berkebutuhan khusus, kesempatan untuk tampil dan berinteraksi secara luas tidak selalu datang setiap hari.

Karnaval menjadi salah satu ruang untuk membuka kesempatan tersebut.

Ketika Karnaval Menjadi Ruang Inklusi

Kemeriahan tidak hanya melibatkan siswa, guru, dan orang tua.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari kolaborasi SLB Negeri Semarang dengan Universitas Sains dan Teknologi Komputer (Stekom), dunia usaha, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap inklusi.

Bagi Rektor Stekom, Dr. Joseph Teguh Santoso, M.Kom. mengatakan, keterlibatan berbagai pihak menjadi bagian penting untuk membangun interaksi antara penyandang disabilitas dan masyarakat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Muh Akhsan

Rekomendasi

Terkini

X