Curah hujan ekstrem ini dengan cepat meningkatkan debit air Sungai Glugu, Sungai Jajar, Sungai Tuntang, dan Sungai Lusi hingga melampaui kapasitas tampungnya.
Situasi menjadi semakin genting ketika sejumlah tanggul di titik-titik vital tak mampu lagi menahan derasnya arus dan akhirnya jebol.
"Pihaknya juga mencatat ada sejumlah tanggul jebol, antara lain di Sungai Cabean Desa Tajemsari, Kecamatan Tegowanu, Sungai Jajar Baru di Dusun Krasak dan Dusun Klampisan, Desa Mojoagung, Kecamatan Karangrayung, serta Sungai Jratun di Dusun Mbaru, Desa Kebonagung, Kecamatan Tegowanu," ungkap Wahyu.
Baca Juga: Menko Polkam Ajak Brigif 18/Trisula Jaga Persatuan dan Keutuhan Bangsa
Akibatnya, air bah dengan cepat menyebar ke area permukiman. Di Kecamatan Purwodadi, tepatnya di Kelurahan Kalongan, genangan air dilaporkan mencapai ketinggian satu meter, berdampak pada 1.180 KK.
Sementara di Desa Cingkrong, tercatat sebanyak 2.416 KK terdampak dengan ketinggian air bervariasi antara 10 hingga 50 cm. Total, 9.736 KK di 45 desa merasakan dampak langsung dari bencana ini, termasuk kerusakan rumah dan infrastruktur. Selain merendam permukiman, banjir juga menghancurkan harapan para petani.
"Di Desa Tinanding, Kecamatan Godong, sekitar 130 hektare sawah dengan tanaman padi siap panen dilaporkan terendam," jelas Wahyu, menggambarkan kerugian ekonomi yang signifikan.
Di tengah upaya evakuasi yang dilakukan tim gabungan dari BPBD, TNI-Polri, dan relawan, kehadiran bantuan dari pihak seperti BRI menjadi penopang penting bagi para korban di posko-posko pengungsian.
Baca Juga: Ahmad Luthfi Koordinasikan Penanganan Terpadu Banjir Sungai Tuntang
Distribusi sembako dari BRI membantu memastikan kebutuhan pangan dasar warga yang mengungsi dapat terpenuhi selama masa tanggap darurat. Aksi ini menunjukkan sinergi yang baik antara pemerintah, aparat, dan sektor swasta dalam penanganan bencana.***