Baca Juga: Tingkatkan Mitigasi Kebencanaan, Wapalhi Unisnu Jepara Gelar PPGD
Ia berharap, skema serupa bisa direplikasi di titik-titik rawan rob lainnya di Demak, agar penanganan banjir tak lagi bersifat tambal sulam.
Di balik pompa itu, ada perhitungan teknis dan efisiensi yang matang. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya dan Penataan Ruang (Pusdataru) Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, menjelaskan, PATS Sayung menggunakan dua unit pompa dengan kapasitas masing-masing 125 liter per detik.
“Pokoknya sangat efisien. Siang hari semua operasional pakai solar cell. Malam baru pakai listrik. Biayanya jauh lebih murah,” kata Henggar.
Baca Juga: Iming-Iming Harga Murah di Medsos, Charoen Pokphand Indonesia Ingatkan Bahaya Penipuan
Menurutnya, jika menggunakan pompa berbahan bakar BBM, biaya operasional bisa mencapai jutaan rupiah setiap bulan. Dengan sistem tenaga surya, beban itu nyaris hilang.
“Paling kita hanya menyiapkan biaya listrik. Estimasinya sekitar Rp 1,5 juta per bulan. Masih akan kita hitung pastinya setelah sebulan beroperasi penuh,” ujarnya.
Pompa ini didukung 74 panel surya berkapasitas masing-masing 720 Watt peak, dengan total daya mencapai 66 kiloWatt peak. Saat matahari bersinar penuh, energi terbarukan sepenuhnya menggerakkan pompa. Ketika cahaya berkurang, sistem otomatis beralih ke listrik PLN tanpa jeda.
Baca Juga: Jawa Tengah Siap Take Off Program Pro-Rakyat pada 2026
Pelaksanaan pekerjaan PATS dimulai pada 16 Oktober 2025 dan selesai pada tanggal 22 Desember 2025 atau 68 hari kalender. Di tengah ancaman rob yang belum sepenuhnya pergi, pompa tenaga surya di Sayung memberi satu pelajaran. Berhadapan dengan alam tak selalu harus dengan biaya mahal, tetapi dengan kecerdasan, kolaborasi, dan keberanian mencoba cara baru.