Baca Juga: Wagub Jateng Optimis Musorprov KONI Tingkatkan Kualitas Pembinaan Atlet
Menteri yang akrab dipanggil Gus Ipul itu menegaskan, acara ini menegaskan PKH bukan bantuan permanen, melainkan jaring sementara untuk mendorong kemandirian ekonomi keluarga.
“Yang digraduasi ini dulunya diafirmasi, dipangku. Awalnya dibela, sekarang naik menjadi difasilitasi. Difasilitasi itu bukan lebih sedikit dari bantuan, malah justru lebih banyak. Ada program bantuan modal, mandiri, dan program-program lain yang membuat Bapak Ibu akan jauh lebih berkembang dari pada menerima bantuan,” ujar Gus Ipul.
Acara graduasi tidak hanya terlihat pada seremoni, tetapi pada kisah-kisah keluarga yang akhirnya mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Baca Juga: Evakuasi Longsor Situkung Banjarnegara, Hunian Sementara dan Bantuan Warga Dipercepat
Romisa, penerima sejak 2018, mengungkapkan, PKH sangat membantu pendidikan anak-anaknya, terutama saat suaminya hanya membawa pulang pendapatan paling banyak Rp 65 ribu per hari.
“Sekarang waktunya gantian, biar yang lain merasakan,” ujarnya.
Ia kini membiarkan bantuan dialihkan kepada keluarga yang membutuhkan.
Baca Juga: Gus Yasin Dukung Ijazah MDT Jadi Poin Tambahan Masuk Sekolah Negeri
Ningsih, yang tinggal satu rumah bersama suami, dua anak, dan ibunya, mengaku bahagia menerima keputusan graduasi.
“Seneng,” kata penerima PKH sejak 2016 ini. Pendapatan keluarga kini sekitar Rp 5 juta per bulan, meski sebagian besar kembali dipakai sebagai modal usaha.
“Dulu PKH sangat membantu. Sekarang sudah cukup,” ucapnya.
Baca Juga: Ahmad Luthfi Perintahkan Bupati Cilacap Siapkan Lahan Relokasi 3,5 Ha di Majenang
Ika Yanti, penerima sejak 2011, dulunya bekerja di kantin sekolah untuk menghidupi tiga anaknya. Bagi Yanti, graduasi adalah bentuk pengabdian sosial.
“Sekarang sudah merasa mampu. Biar gantian sama yang lain yang belum pernah ngerasain,” ujarnya.