“Industri padat karya seperti tekstil, rajutan, dan alas kaki telah menyerap banyak tenaga kerja. Menjaga kestabilan ekspor berarti menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat,” kata Heri.
Baca Juga: Stasiun Batang Disiapkan Jadi Simpul Logistik dan Transportasi Terpadu
Sementara itu, total nilai impor kumulatif Jawa Tengah sepanjang Januari–Agustus 2025 tercatat menurun 6,78 persen atau mencapai 9.393,66 juta dolar AS.
Bagi Heri, penurunan ini dapat menjadi sinyal positif terhadap efisiensi produksi dalam negeri, meskipun perlu terus dikaji agar tidak berdampak pada pasokan bahan baku industri.
“Kinerja ekspor yang naik dan impor yang menurun menunjukkan keseimbangan ekonomi yang mulai membaik. Namun, pemerintah tetap harus memastikan bahwa industri dalam negeri tidak kekurangan bahan baku,” ujarnya.
Baca Juga: Sekda Jateng Ingatkan: KDKMP Harus Belajar dari Gagalnya KUD di Masa Lalu
Sektretaris DPD Gerindra Jateng ini berharap tren positif ini dapat terus berlanjut hingga akhir tahun dengan sinergi kuat antara pemerintah, pelaku industri, dan dunia usaha.
“Dengan kerja sama yang baik, Jawa Tengah bisa menjadi salah satu motor ekspor nasional dan menjaga stabilitas ekonomi di tengah tantangan global,” pungkas Heri Londo, sapaan akrabnya.