PANTURA NETWORK -- Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, mengapresiasi capaian kinerja ekspor Jawa Tengah yang terus menunjukkan tren positif di tengah dinamika ekonomi global.
Ia mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama para pelaku usaha agar terus menjaga momentum pertumbuhan tersebut dengan memperkuat sektor-sektor unggulan ekspor daerah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Jawa Tengah pada Agustus 2025 mencapai 1.093,49 juta dolar AS, meningkat 3,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Berdayakan Masyarakat, Wakil Ketua DPRD Jateng Dorong Desa Wisata Giatkan Event Kreatif
Peningkatan ini terutama disumbang oleh sektor industri pengolahan yang tumbuh 9,84 persen, serta pertambangan dan lainnya yang naik 25,90 persen. Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penurunan sebesar 43,65 persen.
“Kinerja ekspor Jawa Tengah menunjukkan semangat produktivitas dan daya saing yang kuat. Pemerintah daerah perlu menjaga tren positif ini agar memberikan dampak luas bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Heri, Selasa (21/10/2025).
Menurut Heri, peningkatan ekspor di sektor industri pengolahan menjadi indikator penting bahwa pelaku usaha di Jawa Tengah mampu beradaptasi dengan permintaan pasar global.
Baca Juga: Bangun Masyarakat Berempati, Waka DPRD Jateng Tegaskan Budaya Anti Perundungan Harus Diperkuat
Namun, ia mengingatkan agar sektor pertanian dan perikanan yang menurun juga mendapat perhatian serius dari pemerintah.
“Sektor pertanian tidak boleh tertinggal. Harus ada upaya bersama untuk memperkuat rantai pasok, kualitas produk, serta membuka akses ekspor bagi hasil-hasil pertanian dan UMKM desa,” tegasnya.
BPS juga mencatat bahwa negara tujuan utama ekspor nonmigas Jawa Tengah antara lain Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Belanda, dan Korea Selatan.
Baca Juga: Bupati Jepara Siapkan Sentra UMKM Baru di Jalan KM Sukri, Taman Kota Disulap Jadi Pusat Ekonomi Baru
Produk unggulan seperti pakaian dan aksesoris (bukan rajutan) masih menjadi andalan dengan kontribusi 16,21 persen terhadap total ekspor nonmigas periode Januari–Agustus 2025, meski turun 11,93 persen dibanding sebelumnya. Sementara itu, pakaian rajutan naik 5,45 persen, dan alas kaki meningkat 9,22 persen.
Heri menilai, capaian ini menandakan bahwa sektor industri padat karya di Jateng masih menjadi tulang punggung ekspor daerah. Ia mendorong agar pemerintah terus memberikan insentif, kemudahan investasi, serta dukungan infrastruktur untuk memperkuat daya saing produk ekspor.