TADIKA Patani dan Politik Identitas

photo author
Marko Komar, Pantura Network
- Senin, 13 April 2026 | 11:25 WIB
Suasana kegiatan Kursus Musim Panas yang berlangsung di TADIKA/Madrasah Darussa'adah, Kampung Carakpan, Thanto, Yala, Sabtu (4/4/2026). (Istimewa for Pantura Network)
Suasana kegiatan Kursus Musim Panas yang berlangsung di TADIKA/Madrasah Darussa'adah, Kampung Carakpan, Thanto, Yala, Sabtu (4/4/2026). (Istimewa for Pantura Network)

PANTURA NETWORK | OPINI -- Ada yang tak pernah benar-benar netral dalam pendidikan. Di Patani, Thailand Selatan, pendidikan menjelma menjadi arena sunyi yang menentukan antara apakah identitas akan bertahan, atau perlahan menghilang tanpa bekas.

Pergolakan sejarah Masyarakat Melayu Muslim Patani tumbuh dari rahim panjang peradaban Kesultanan Patani Darussalam, sebuah warisan yang tercatat sebagai kejayaan politik dan mengakar kuat dalam bahasa, agama, dan budaya.

Namun, sejarah kerap tak memberi ruang aman. Ketika Patani berada dalam kedaulatan Thailand, identitas itu tidak hilang, melainkan dipaksa bernegosiasi di bawah bayang-bayang dominasi negara yang berbeda secara etnis dan keyakinan.

Baca Juga: Pelayang Jepara Bersiap Tampil di Festival Layang-Layang Internasional Malaysia–Thailand 2026

Di titik inilah pendidikan menjadi krusial. Sebab di antara sekian banyak bentuknya, Taman Didikan Kanak-kanak (TADIKA) menjelma layaknya benteng yang tak kasat mata namun kokoh.

Secara sosiologis, TADIKA adalah lembaga pendidikan sekaligus ruang reproduksi identitas. Di sana, bahasa Melayu diajarkan, bahkan dihidupkan. Mereka mempelajari nilai-nilai Islam dan menanamkan laiknya laku hidup. Dalam konteks ini, TADIKA menjalankan fungsi yang jauh melampaui sekolah formal, ia menjaga marwah.

Meski seperti itu, secara politis negara hanya mengklasifikasikannya sebagai pendidikan non-formal. Kontradiksi ini terasa getir. Apa yang dianggap vital oleh masyarakat, justru di-marjinal-kan oleh negara. Seolah TADIKA hidup dalam ruang abu-abu, penting, tetapi tak sepenuhnya diakui. Ironi.

Baca Juga: Wagub Jateng Pastikan Anak Disabilitas Peroleh Akses Pendidikan Setara dan Inklusif

Salah satu manifestasi paling nyata dari perlawanan kultural ini adalah 'Kursus Musim Panas' yang diselenggarakan di berbagai wilayah Patani, termasuk di Carakpan. Sekilas, program ini tampak sederhana. Mengisi waktu liburan pelajar. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan strategi yang jauh lebih dalam.

Kursus ini ialah laboratorium peradaban kecil. Para cikgu (guru-guru) dikader dan dididik menjadi aktor utama dalam transmisi nilai. Di tengah keterbatasan pengakuan formal, para pendidik ini bekerja laksana penjaga identitas.

Transformasi kursus dari agenda musiman menjadi gerakan kolektif menunjukkan satu hal penting, yakni masyarakat Patani tidak menunggu legitimasi untuk bergerak. Mereka menciptakan legitimasi itu sendiri melalui konsistensi dan kebutuhan.

Baca Juga: Pemprov Jateng Gandeng Undip Edukasi Siswa Tangkal Radikalisme Lewat Film Dokumenter

Di banyak tempat, mempertahankan bahasa ibu mungkin hanya soal kebanggaan budaya. Di Patani, ia representasi perlawanan. Setiap kata dalam bahasa Melayu yang diucapkan oleh anak-anak TADIKA adalah penegasan, "kami masih ada."

Begitu pula dengan adab dan nilai Islam yang diajarkan sebagai kompas moral yang menjaga generasi muda agar tidak tercerabut dari akar. Dalam situasi konflik identitas, keberadaban adalah strategi bertahan yang paling elegan, karena konsisten.

Di sinilah letak kekuatan masyarakat Patani, mereka melawan tanpa harus selalu berhadapan. Mereka bertahan tanpa harus kehilangan arah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Marko Komar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X