Pendidikan Agama Islam di Era Society 5.0: Tantangan dan Peluang

photo author
Muh Akhsan, Pantura Network
- Jumat, 29 Agustus 2025 | 14:08 WIB
Badrus Zaman M.Pd.I, Dosen UIN Salatiga.
Badrus Zaman M.Pd.I, Dosen UIN Salatiga.

Panturanetwork.com - Perkembangan masyarakat memasuki era Society 5.0 menghadirkan tantangan besar bagi pendidikan agama Islam. Teknologi digital yang semakin canggih kecerdasan buatan, big data, hingga Internet of Things telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi. Dalam konteks ini, pendidikan agama Islam tidak bisa sekadar bertahan dengan metode klasik, melainkan perlu hadir sebagai kekuatan transformatif yang mampu mengimbangi arus perubahan.

Persoalan utama terletak pada gap antara nilai-nilai spiritual yang diajarkan dalam kelas dengan realitas digital yang penuh distraksi. Siswa Muslim kini lebih mudah mengakses informasi melalui gawai ketimbang dari guru atau kitab. Di satu sisi, ini peluang besar karena ilmu keislaman dapat diakses luas melalui E-Learning, aplikasi Al-Quran digital, maupun forum kajian daring.

Namun di sisi lain, informasi agama sering bercampur dengan hoaks, radikalisme, dan tafsir sempit yang membingungkan peserta didik. Pendidikan agama Islam harus mampu menanamkan Critical Digital Literacy agar siswa tidak hanya menerima, tetapi juga menguji kebenaran informasi keagamaan yang mereka temukan.

Isu kedua adalah relevansi kurikulum. Masih banyak materi yang berhenti pada tataran kognitif dan hafalan, tetapi kurang menekankan pada pembentukan akhlak dalam realitas sosial. Era Society 5.0 menuntut generasi Muslim yang tidak hanya tahu ayat atau hadis, tetapi juga mampu menerjemahkan nilai-nilainya ke dalam tindakan nyata: menjaga lingkungan, menggunakan teknologi secara etis, hingga membangun relasi sosial yang toleran. Dengan kata lain, pendidikan agama Islam harus bergeser dari sekadar transfer of knowledge menuju formation of character. Pergeseran dari transfer of knowledge menuju formation of character berarti pendidikan agama Islam tidak cukup hanya membuat siswa pintar dalam aspek kognitif, tetapi juga terbiasa berbuat baik sesuai nilai-nilai Islam.

Baca Juga: Pasangan Bukan Suami Istri Digerebek Warga Kalipucang Wetan

Tantangan lain adalah kapasitas guru. Guru agama tidak lagi cukup menjadi “penceramah” di kelas, melainkan harus menjadi fasilitator yang adaptif dengan teknologi. Kesiapan mereka menggunakan platform digital, mengelola diskusi daring, dan membimbing siswa untuk berinteraksi sehat di dunia maya menjadi sangat penting. Di titik ini, program pelatihan guru berbasis digital literacy harus menjadi prioritas kebijakan pendidikan Islam.

Jika ditarik ke ranah filosofis, era Society 5.0 sejatinya mengingatkan kembali pada misi utama Islam sebagai agama ilmu: membebaskan manusia dari kebodohan, mengarahkan pada kebijaksanaan, dan menyeimbangkan dunia-akhirat. Teknologi hanyalah alat; yang menentukan arah adalah manusia yang menggunakannya. Pendidikan agama Islam harus hadir untuk memastikan bahwa kecerdasan buatan tidak mengalahkan kecerdasan spiritual, dan bahwa kemajuan teknologi tidak mengikis nilai kemanusiaan.

Refleksi kritis ini menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam di era Society 5.0 bukan sekadar menjaga warisan, melainkan menyalakan obor cahaya ilmu agar generasi Muslim mampu menapaki jalan modernitas tanpa kehilangan identitas. Tantangannya besar, tetapi peluangnya jauh lebih luas: mencetak generasi berilmu, berakhlak, dan siap menjadi agen perubahan di tengah masyarakat digital.

Penulis: Badrus Zaman M.Pd.I, Dosen UIN Salatiga.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Muh Akhsan

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X