Pada halaman bagian atas tertulis nama “Ahmad Nur Kafrawi” dan penulisan tanggal “23-11-54” yang bila di rincikan adalah 23 November 1954.
Ahmad Nur Kafrawi ini adalah keponakan langsung dari Kiai Ahmad Fauzan, dan ialah yang menjadi pemilik pertama kitab ini, yang mulai dimilikinya pada tanggal 23 November 1954.
Binhima pemilik naskah berasumsi bahwa kitab ini mungkin ditulis 2 atau 3 tahun sebelum tahun bapak Ahmad Nur Kafrawi memiliki kitab ini.
Artinya kitab ini termasuk kategori manuskrip atau naskah kuno, karena dalam undang-undang nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan menyebut bahwa setiap naskah atau tulisan tangan yang sudah berumur 50 tahun maka termasuk dalam kategori manuskrip atau kitab kuno.
Sampul dari kitab sebenarnya berwarna biru, namun karena sudah berumur lama, warna biru dari sampul ini semakin lama, semakin memudar. Halaman dari kitab ini berjumlah 54 halaman dengan 29 lembar kertas, 2 lembar untuk sampul dan 27 lembar untuk isi naskah.
Baca Juga: Taj Yasin : Jateng Genjot Produksi Jagung Demi Ketahanan Pangan Nasional
Adapun rata-rata jumlah baris tiap halaman adalah 15 baris, yang terletak pada halaman 2 sampai 53, untuk halaman pertamanya berjumlah 13 baris dan untuk halaman terakhir berjumlah 3 baris.
Kertas yang digunakan kitab ini adalah kertas jenis Eropa tanpa watermark, dengan tulisan tinta berwarna hitam. Bahasa utama atau yang dominan memenuhi kitab ini, adalah bahasa Indonesia.
Adapun bahasa Arab digunakan untuk beberapa ayat Al-Qura’an, potongan matan hadits, syair, maqolah, dan beberapa istilah dalam bahasa Arab. Kemudian ada beberapa istilah bahasa Jawa, seperti ngunduh yang berarti memanen, dan ngerawit yang berarti merawat.
Baca Juga: Pemprov Jateng Gadang Hybrid Sea Wall Atasi Banjir Rob Demak
Ayat Al-Qur’an yang terdapat dalam kitab ini adalah QS. Al-Isra’ ayat 1 pada awal halaman 1 dan QS. Az-Zariyat ayat 56 pada akhir halaman 7. Ayat Al-Qur’an yang pada kitab ini ditulis menggunakan campuran antara rasm Utsmani dan rasm Imla’i atau sistem penulisan teks Arab yang mengikuti prinsip penulisan berdasarkan pelafalan. Adapun penafsiran dan penjabaran dalam bahasa Ajam (selain Arab) ditulis dengan Arab pegon.
Dari pemaparan Kyai Nur Rohman kitab ini pernah dibawa oleh Husein Muthahar, seorang pencipta lagu nasional dan bapak paskibraka, lagu-lagu ciptaan beliau antar lain adalah Syukur, Hari Merdeka, Dirgahayu Indonesia, Hymne Pramuka, dan masih banyak lagi.
Kitab ini pernah dibawa beliau untuk dibaca dan ditulis ulang dalam aksara Latin, namun penulisan ulang dalam aksara Latin sampai saat kitab ini dikembalikan, belum sempat ditulis oleh beliau.
Baca Juga: Malam Pangkreman, Makam Mantingan Jepara Dipenuhi Peziarah