Pengkhianatan Nuzulul Qur'an

photo author
Marko Komar, Pantura Network
- Rabu, 4 Maret 2026 | 01:52 WIB
Cara umat Islam di Bali sholat tarawih saat perayaan Nyepi 2023. (Pixabay)
Cara umat Islam di Bali sholat tarawih saat perayaan Nyepi 2023. (Pixabay)

PANTURA NETWORK -- Setiap Ramadan, kita kembali memperingati Nuzulul Qur'an. Spanduk dipasang, poster digital berseliweran, mimbar-mimbar masjid dipenuhi ceramah tentang betapa mulianya malam ketika wahyu pertama turun. Tahun ini, 1447 Hijriah, peringatannya kembali hadir di tengah dunia yang terasa makin gaduh: krisis moral, polarisasi politik, ketimpangan ekonomi, dan kelelahan sosial yang tak lagi bisa disembunyikan. Pertanyaannya sederhana tapi mengganggu: apakah Nuzulul Qur'an masih kita maknai sebagai peristiwa yang hidup, atau sekadar ritual tahunan yang aman dan jinak?

Secara historis, Nuzulul Qur'an bukan perayaan. Ia adalah kejutan. Wahyu pertama turun bukan di istana, bukan di pusat kekuasaan, melainkan di gua-ruang sunyi, marginal, dan jauh dari hiruk-pikuk. Ia datang bukan untuk menghibur status quo, tapi untuk mengganggunya. Kata pertama yang diucapkan bukan "patuh", melainkan "iqra"-bacalah. Sebuah perintah yang menuntut kesadaran, nalar, dan keberanian memahami realitas.

Namun, berabad-abad kemudian, peringatan Nuzulul Qur'an sering terasa tereduksi. Kita membacanya dengan suara merdu, menghafalnya dengan disiplin, tetapi kerap menghindar dari konsekuensi sosialnya. AlQuran dirayakan sebagai simbol kesalehan individual, bukan sebagai teks yang menantang ketidakadilan struktural. Padahal, jika ditelusuri, hampir mustahil membaca alQur'an tanpa bersinggungan dengan isu kekuasaan, ketimpangan, penindasan, dan keberpihakan pada yang lemah.

Baca Juga: Jelang Pertengahan Ramadan, Jepara Terima Tambahan 19.600 Tabung LPG, Operasi Pasar Digelar di 15 Kecamatan

Di sinilah letak problem kita hari ini. Nuzulul Qur'an sering dipahami sebagai momen spiritual yang steril dari konflik sosial. Kita nyaman membingkainya sebagai malam penuh pahala, tanpa mau mengakui bahwa wahyu justru lahir di tengah krisis peradaban. Masyarakat Arab saat itu dilanda ketimpangan ekonomi, eksploitasi, dan normalisasi kekerasan. Wahyu datang bukan sebagai pelarian dari dunia, tetapi sebagai kritik tajam terhadapnya.

Jika konteks itu kita tarik ke 1447 H, pantulannya terasa menyakitkan. Ketimpangan sosial masih menganga. Akses pendidikan dan kesehatan tetap ditentukan oleh kelas ekonomi. Di media sosial, kebencian lebih cepat viral daripada empati. Agama, ironisnya, kerap dijadikan alat pembenaran kekuasaan, bukan sumber kritik moral. Dalam situasi seperti ini, memperingati Nuzulul Qur'an tanpa refleksi sosial justru terasa seperti pengkhianatan terhadap ruhnya.

Ada pola pikir dominan yang perlu kita gugat: bahwa agama cukup diurus di ruang privat. Bahwa iman adalah urusan personal, sementara urusan publik biarlah ditentukan oleh logika pasar atau kepentingan politik. Padahal, al-Qur'an sejak awal menolak dikurung di bilik personal. Ia bicara tentang timbangan yang adil, larangan menumpuk harta, kewajiban membela yang tertindas, dan tanggung jawab kolektif membangun tatanan yang beradab.

Baca Juga: Menko Polkam Dorong Penguatan Cadangan Energi Nasional Hadapi Konflik Global

Bagi mahasiswa dan aktivis, Nuzulul Qur'an seharusnya menjadi momen evaluasi: sejauh mana pengetahuan dan idealisme kita benar-benar berpihak pada kemanusiaan? Apakah kampus hanya menjadi pabrik ijazah, atau ruang lahirnya kesadaran kritis? Bagi pekerja kreatif, wahyu bisa dibaca sebagai dorongan etis: apakah karya kita sekadar mengejar algoritma, atau berani menyuarakan kegelisahan zaman? Bahkan bagi pembaca umum, pertanyaannya tetap relevan: apakah iman kita membuat dunia sekitar sedikit lebih adil, atau justru tak berdampak apa-apa?

Nuzulul Qur'an juga menantang cara kita memahami "membaca". Iqra tidak berhenti pada teks suci. Ia menuntut kita membaca realitas: membaca ketidakadilan yang dinormalisasi, membaca kemiskinan yang disalahkan pada korban, membaca kekerasan yang dibungkus stabilitas. Membaca, dalam pengertian ini, adalah tindakan politis dan etis. Ia menuntut keberpihakan.

Tentu, refleksi ini tidak nyaman. Lebih mudah merayakan Nuzulul Qur'an dengan lomba, seremonial, dan unggahan inspiratif. Lebih sulit menjadikannya titik tolak perubahan cara berpikir dan bertindak. Namun justru di situlah nilai spiritualnya diuji. Wahyu tidak pernah berjanji akan membuat hidup nyaman. Ia menjanjikan arah, bukan kemudahan.

Baca Juga: Dua Ruas Jalan Blora Diresmikan Gubernur Luthfi, Tingkatkan Akses Kawasan Energi dan Distribusi Hasil Tani

Di tengah dunia yang makin pragmatis, Nuzulul Qur'an 1447 H mengingatkan kita bahwa iman tanpa keberanian moral hanyalah ornamen. Bahwa membaca tanpa berpikir kritis hanya melahirkan kepatuhan kosong. Dan bahwa spiritualitas yang tidak berdampak sosial berisiko menjadi candu-menenangkan, tapi melumpuhkan.

Maka, mungkin pertanyaan paling jujur yang bisa kita ajukan di akhir peringatan ini bukanlah "sudah berapa kali kita khatam?", melainkan: apa yang berubah dalam cara kita memandang dan memperlakukan sesama? Apakah wahyu masih kita biarkan turun ke kehidupan sehari-hari, atau kita kunci rapat-rapat di lemari simbol dan slogan?

Nuzulul Qur'an tidak selesai pada malam ia diperingati. Ia menuntut kelanjutan-dalam sikap, pilihan, dan keberanian mengambil posisi. Dan barangkali, justru di tengah ketidakpastian zaman inilah, perintah iqra kembali mengetuk kita: beranikah kita membaca dunia dengan jujur, lalu bertindak dengan nurani?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Marko Komar

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Pengkhianatan Nuzulul Qur'an

Rabu, 4 Maret 2026 | 01:52 WIB

Nuzulul Qur'an dan Sunyi yang Mengajarkan Makna

Jumat, 20 Februari 2026 | 22:35 WIB

Penjelasan dan Makna Al-Muhsi dari Asmaul Husna

Selasa, 23 September 2025 | 01:23 WIB

Penjelasan dan Makna Al-Hamid dari Asmaul Husna

Selasa, 23 September 2025 | 00:41 WIB

Penjelasan dan Makna Al-Waliyy dari Asmaul Husna

Minggu, 21 September 2025 | 20:17 WIB

Makna dan Penjelasan Al Matin dari Asmaul Husna

Minggu, 21 September 2025 | 19:43 WIB

Al-Wakil dari Asmaul Husna, Apa Makna dan Penjelasannya?

Minggu, 21 September 2025 | 19:21 WIB

Penjelasan dan Makna Al-Qawiyy dari Asmaul Husna

Minggu, 21 September 2025 | 19:06 WIB

Makna Ya Baits dalam Asmaul Husna

Sabtu, 1 Maret 2025 | 19:52 WIB
X