Penonton lain, Antonius, warga Kota Semarang, mengaku jauh-jauh hari sudah persiapan akan datang. Maklum, dia penggemar berat KLa Project sejak Kayon cs mulai dikenal publik pada 1988 lewat lagu “Tentang Kita”.
Antonius datang ditemani istri dan dua anaknya. Ia menikmati konser dengan cara sederhana: melewatkan bersama orang tercinta, bernyanyi, dan bahagia menikmati suasana.
“Mengikuti konser ini asyik, Mas. Mantap,” katanya sembari mengacungkan ibu jari.
Penampilan KLa Project menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Lagu-lagu mereka bukan hanya dikenal oleh satu generasi. Musik yang telah bertahan puluhan tahun itu masih mampu mempertemukan orang tua, anak, dan generasi yang tumbuh setelahnya dalam satu ruang yang sama.
Antonius dan Eli menaruh harapan besar agar konser serupa tetap hadir pada perayaan-perayaan berikutnya.
“Mungkin bisa kembali dihadirkan artis-artis yang populer, yang legendaris dan gratis. Tetap harus merakyat,” ujarAntonius.
Di sinilah kekuatan KLa Project malam itu. Ia tidak hanya menghadirkan musik, tetapi juga memori. Sebuah lagu bisa menjadi “mesin waktu”. Sekali terdengar, seseorang bisa tetiba teringat pada teman lama, perjalanan masa muda, cinta yang pernah tumbuh, atau hari-hari di mana belum dipenuhi bertumpuk persoalan.
Maka ketika KLa Project tampil di panggung Harmony of Java 2026, yang terdengar bukan hanya suara musik. Ada masa lalu yang kembali mengetuk ingatan. Ada generasi yang pernah tumbuh bersama.
Dan ada generasi yang mungkin baru mengenal lagu KLa Project, tetapi ikut menikmati energi yang sama. Nyatanya, saat “Tak Bisa Kelain Hati” dan “Yogyakarta dibawakan, banyak pula penonton usia belia yang ikut melantunkannya.
Panggung Harmony of Java 2026 mampu menghadirkan penggalan nostalgia melalui harmoni yang nyawiji. Ada Eli dan sahabatnya yang datang membawa nostalgia. Ada Antonius yang mengajak keluarganya.
Bahkan ada ribuan penonton yang datang dengan alasan masing-masing. Semua bertemu , di bawah cahaya panggung dan gegap gempitanya KLa Project.
Malam itu, Jawa Tengah tidak hanya merayakan usia 81 tahun.
Ia juga merayakan ingatan, kebersamaan, dan sebuah hal sederhana: bernostalgia dengan bahagia.
Sebagaimana lirik “Tentang Kita” yang menjadi lagu pamungkas; _“Kembali, kembalilah kini, segala asa berseri. Benahi, benahilah kini, kepekaan nurani. Kembali, kembalilah kini, segala asa berseri…”.***