Petani Jateng Mulai Gunakan Pompa Surya, Biaya Produksi Lebih Hemat

photo author
Muh Akhsan, Pantura Network
- Senin, 10 Agustus 2026 | 14:14 WIB
Petani Jateng Mulai Gunakan Pompa Surya, Biaya Produksi Lebih Hemat
Petani Jateng Mulai Gunakan Pompa Surya, Biaya Produksi Lebih Hemat

PEKALONGAN - Ketergantungan petani terhadap bahan bakar solar untuk mengairi sawah mulai ditekan di Jawa Tengah. Melalui program Benteng Pangan Jateng, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memasang pompa air tenaga surya (PATS) yang mampu menghemat konsumsi bahan bakar, sekaligus memperluas akses pengairan lahan pertanian.

Program tersebut kini telah diterapkan di tiga titik, yakni Desa Tengengwetan, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Brebes, dan Kabupaten Cilacap. Total pompa tenaga surya itu mampu mengairi sekitar 50 hektare lahan pertanian.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan, penggunaan energi baru terbarukan untuk sektor pertanian merupakan bagian dari transformasi energi. Hal itu upaya menekan biaya produksi petani.

“Program Benteng Pangan Jateng yang kita lakukan hari ini adalah energi baru terbarukan, termasuk di dalamnya adalah solar panel untuk pertanian, khususnya pompa air,” kata Ahmad Luthfi saat menyerahkan bantuan secara simbolis dan meninjau penerapan PATS di Desa Tengengwetan, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, Senin, 10 Agustus 2026.

Menurut Luthfi, yang memimpin Jareng bersama Wagub Taj Yasin, penggunaan pompa tenaga surya memberikan sejumlah keuntungan. Selain mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, teknologi tersebut juga lebih ramah lingkungan dan dapat dioperasikan secara optimal sepanjang hari.

“Tiga titik pompa ini total mengairi sekitar 50 hektare lahan pertanian, untuk yang di Pekalongan ini bisa mengairi hampir 20 hektare lahan,” ujarnya didampingi Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah, Agus Sugiharto.

Luthfi menegaskan, tiga lokasi tersebut tidak sekadar menjadi penerima bantuan, tetapi juga disiapkan sebagai role model penerapan teknologi pompa tenaga surya di Jawa Tengah.

Ke depan, konsep serupa akan dikembangkan di berbagai kabupaten/kota. Pemanfaatannya pun tidak terbatas pada sektor pertanian, tetapi dapat diperluas untuk mendukung kebutuhan masyarakat di kawasan kampung nelayan, UMKM, hingga sektor lainnya.

“Ini akan kita kembangkan, nanti akan kita sosialisasikan lalu infrastruktur disiapkan,” katanya.

Menurut Luthfi, pengembangan energi baru terbarukan tersebut sejalan dengan peta jalan Jawa Tengah menuju transformasi energi dan penguatan ekonomi hijau. Bahkan, teknologi pompa tenaga surya telah dimanfaatkan untuk mendukung penanganan persoalan banjir di Sayung, Kabupaten Demak.

“Pompa tenaga surya ini juga sudah digunakan di Sayung untuk mengatasi banjir,” ujarnya.

Dampak penggunaan PATS mulai dirasakan langsung petani. Di Desa Tengengwetan, sekitar 30 petani padi memanfaatkan pompa tersebut untuk mengalirkan air dari sungai ke lahan pertanian seluas hampir 20 hektare.

Perwakilan Gapoktan Desa Tengengwetan, Kirom, mengatakan, penggunaan PATS memangkas konsumsi solar secara signifikan.

Sebelum ada pompa tenaga surya, mesin diesel untuk mengairi sawah membutuhkan sekitar 30 liter solar dalam satu hari satu malam. Setelah PATS digunakan, konsumsi solar turun menjadi sekitar 15 liter karena pompa bertenaga surya dioperasikan pada siang hari.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Muh Akhsan

Rekomendasi

Terkini

Mahasiswa 14 Negara Belajar Langsung Ukir Jepara

Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:06 WIB

Kirab Budaya Gerakkan Dagangan Pedagang Kecil

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:29 WIB
X