Jepara -- Ada banyak cara untuk merayakan kemerdekaan. Mengibarkan bendera, mengikuti upacara, menggelar lomba, sampai berbaris rapi sebagai Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra).
Tetapi di Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, ada satu cara yang sedikit berbeda membawa karya seorang anak berusia empat tahun ke dalam perayaan kemerdekaan.
Namanya Dirga Tama Arrasya. Di usianya yang masih sangat belia, sebuah gambar sederhana hasil karyanya justru mendapat tempat yang cukup istimewa. Karya Dirga dipilih menjadi desain pada bagian belakang kaos latihan Paskibra tingkat Kecamatan Welahan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Jika dilihat sekilas, mungkin hanya sebuah gambar anak-anak. Namun ketika gambar itu dikenakan oleh para anggota Paskibra yang sedang berlatih untuk sebuah agenda penting, maknanya menjadi jauh lebih besar.
Karya yang awalnya lahir dari imajinasi seorang bocah kini ikut hadir dalam perjalanan para pengibar bendera.
Baca Juga: Jepara Sabet Penghargaan Radar Kudus Award 2026, Program Pendidikan Jadi Penilaian Utama
Pemilihan karya Dirga bukan tanpa alasan. Pada Juli 2026, ia berhasil meraih Juara Pertama Lomba Menggambar Tingkat Kabupaten Jepara. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa bakat dan kreativitas anak bisa muncul sejak usia dini dan yang tak kalah penting, perlu mendapatkan ruang untuk tumbuh.
Pemerintah Kecamatan Welahan kemudian memilih karya tersebut untuk diaplikasikan pada kaos latihan Paskibra. Sebuah keputusan sederhana, tetapi punya pesan yang cukup kuat, karya anak-anak layak diapresiasi, bukan hanya ketika mereka memenangkan perlombaan, tetapi juga dengan memberikan kesempatan agar karya tersebut benar-benar hadir di ruang publik.
Biasanya, kaos Paskibra identik dengan simbol-simbol formal, tulisan daerah, lambang organisasi, atau desain yang dibuat khusus untuk menggambarkan semangat nasionalisme. Kali ini, ada sentuhan yang berbeda. Sebuah karya dari anak berusia empat tahun ikut menjadi bagian dari perjalanan mereka menuju upacara kemerdekaan.
Ada sesuatu yang terasa hangat dari pilihan tersebut. Sebab nasionalisme tidak selalu harus diperkenalkan lewat pidato panjang atau kalimat-kalimat besar. Kadang, ia bisa tumbuh melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan anak seperti menggambar, bermain, berkreasi, kemudian melihat bahwa apa yang mereka buat ternyata dihargai oleh orang-orang di sekitarnya.
Baca Juga: Pemkab Jepara Bersama Baznas Salurkan Bantuan RTLH Rp 27 Juta untuk Warga Desa Ngeling
Bagi Dirga, mungkin gambar itu hanyalah hasil dari aktivitas yang menyenangkan. Tetapi bagi orang dewasa di sekitarnya, karya tersebut bisa menjadi cara untuk mengatakan kepada anak-anak lain bahwa kreativitas mereka juga punya tempat.
Pesan semacam ini sebenarnya penting di tengah kebiasaan anak-anak yang semakin akrab dengan layar dan berbagai konten digital. Ruang untuk menggambar, membuat sesuatu dengan tangan sendiri, dan menuangkan imajinasi tetap menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang mereka.
Sejumlah kegiatan menggambar dan mewarnai untuk anak di berbagai daerah juga menempatkan kreativitas bukan sekadar sebagai kompetisi, tetapi sebagai ruang untuk mengekspresikan imajinasi dan membangun keberanian anak dalam berkarya.
Karena itu, keputusan Kecamatan Welahan menggunakan karya Dirga terasa lebih dari sekadar urusan desain kaos. Ini adalah bentuk apresiasi.
Artikel Terkait
Terobosan di Berbagai Sektor, Ahmad Luthfi Dinobatkan Pendobrak Kemajuan Jateng
Muktamar Tapak Suci di Jateng, Luthfi Tekankan Peran Silat Bangun Karakter Bangsa
Menko Polkam Dorong Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Jadi Booster Program Pemerintah
Pemkab Jepara Bersama Baznas Salurkan Bantuan RTLH Rp 27 Juta untuk Warga Desa Ngeling
Jepara Sabet Penghargaan Radar Kudus Award 2026, Program Pendidikan Jadi Penilaian Utama