Tetapi penjelasan tersebut tidak otomatis membuktikan cerita tentang keturunan Portugis di Banyumanis. Untuk memastikan hubungan genealogis, diperlukan penelitian sejarah, catatan silsilah, dan bila memungkinkan penelitian genetika.
Baca Juga: Suara Antea Hidupkan Kembali Karya WR Soepratman di Hari Jadi ke-81 Jateng
Karena itu, cerita mata biru sebaiknya dinikmati sebagai bagian dari warisan cerita lokal, sembari tetap membedakannya dari fakta sejarah yang telah terverifikasi.
Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, legenda mata biru memperlihatkan sesuatu yang lebih besar: Jepara sejak dahulu merupakan wilayah yang terbuka terhadap perjumpaan berbagai kelompok manusia.
Sebagai daerah pesisir, Jepara memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perdagangan dan pelayaran. Laut menjadi jalur pertemuan berbagai bangsa. Kapal datang dan pergi, membawa barang dagangan, orang, bahasa, agama, teknologi, sekaligus kebudayaan baru.
Benteng Portugis menjadi salah satu pengingat dari masa ketika kawasan pesisir Jepara berada dalam pusaran aktivitas politik dan perdagangan maritim. Bahkan jauh sebelum menjadi destinasi wisata, bukit tempat benteng berdiri sudah memiliki posisi strategis karena dapat mengawasi jalur laut di sekitarnya.
Baca Juga: Hari Jadi ke-81 Jateng, Doa dan Solidaritas untuk NTT
Maka, cerita tentang mata biru dapat dilihat sebagai salah satu fragmen kecil dari sejarah perjumpaan tersebut.
Kini, Benteng Portugis lebih dikenal sebagai destinasi wisata sejarah dan alam. Pengunjung dapat menikmati sisa-sisa bangunan benteng sekaligus panorama Laut Jawa dari atas bukit. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memasukkan Benteng Portugis sebagai destinasi wisata yang menawarkan kombinasi sejarah dan panorama alam, termasuk aktivitas seperti memancing, trekking, dan berkemah. Namun, cerita tentang gadis bermata biru memberikan lapisan lain bagi tempat ini.
Bayangkan datang ke sebuah benteng tua, melihat laut luas dari atas bukit, lalu mendengar cerita bahwa dahulu pernah ada perempuan lokal dengan mata biru yang dipercaya memiliki darah Eropa.
Cerita semacam itu membuat sebuah destinasi terasa lebih hidup. Ada sejarah yang tercatat, ada peninggalan yang bisa dilihat, dan ada cerita masyarakat yang tidak selalu tertulis dalam buku.
Baca Juga: Jateng Gaspol Sambut MTQ Nasional ke-31, Persiapan Capai 90 Persen
Pada akhirnya, misteri mata biru di Benteng Portugis bukan hanya tentang warna mata. Ia adalah cerita mengenai pertemuan manusia, perjalanan bangsa-bangsa, kehidupan masyarakat pesisir, dan bagaimana sebuah kisah dapat bertahan melalui ingatan kolektif.
Benar atau tidaknya legenda tersebut mungkin masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Tetapi satu hal yang pasti, cerita ini menambah warna bagi sejarah Benteng Portugis dan memperlihatkan bahwa Jepara memiliki banyak kisah yang belum semuanya selesai diceritakan. Sebab, terkadang sebuah tempat tidak hanya menyimpan bangunan tua.
Ia juga menyimpan cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut dan justru cerita itulah yang membuat sejarah terasa lebih dekat dengan manusia.***