Jepara – Jepara tidak hanya memiliki cerita tentang R.A. Kartini, ukiran kayu, atau kejayaan maritimnya. Di ujung utara kabupaten ini, tepatnya di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, tersimpan sebuah cerita yang cukup unik dan hingga kini masih menarik perhatian: kisah warga bermata biru yang dikaitkan dengan keberadaan Benteng Portugis.
Cerita tersebut berkembang sebagai legenda atau cerita turun-temurun di tengah masyarakat sekitar benteng. Konon, pada masa lalu pernah terdapat perempuan-perempuan lokal yang memiliki mata berwarna biru. Mereka dipercaya memiliki garis keturunan dari orang-orang Eropa yang pernah datang, singgah, atau tinggal di kawasan tersebut.
Kisah ini membuat Benteng Portugis tidak hanya menarik karena sisa bangunan pertahanannya, tetapi juga karena cerita masyarakat yang berkembang di sekitarnya.
Baca Juga: Karimunjawa, Miniatur Indonesia yang Merawat Harmoni di Tengah Keragaman
Benteng Portugis berada di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, sekitar 43 kilometer dari pusat Kota Jepara. Benteng ini berdiri di atas bukit batu yang langsung menghadap Laut Jawa, dengan Pulau Mandalika terlihat di seberangnya. Letaknya yang tinggi dan strategis membuat kawasan tersebut memiliki nilai penting untuk mengawasi jalur pelayaran.
Dalam berbagai sumber, Benteng Portugis dikaitkan dengan hubungan antara Portugis dan Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung. Sumber dari KeMuseum menyebut benteng dibangun pada 1632 sebagai bagian dari kerja sama Mataram dengan Portugis untuk kepentingan pertahanan menghadapi ancaman VOC. Sementara sejumlah sumber lain memberikan rentang waktu pembangunan pada masa pemerintahan Sultan Agung, sekitar 1613–1645.
Kehadiran bangsa Eropa di kawasan pesisir Jawa pada masa perdagangan dan perebutan pengaruh tentu membuka kemungkinan terjadinya interaksi antara pendatang dan masyarakat lokal. Dari sinilah kemudian muncul berbagai cerita mengenai hubungan antara orang asing dengan penduduk setempat. Salah satu cerita yang paling menarik adalah legenda tentang gadis-gadis bermata biru.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat sekitar Benteng Portugis, dahulu pernah ada warga lokal yang memiliki ciri fisik berbeda dari kebanyakan masyarakat Jawa, terutama warna mata yang biru. Mereka kemudian dipercaya sebagai keturunan hasil perkawinan antara orang Eropa dengan penduduk setempat.
Cerita mengenai keberadaan gadis bermata biru tersebut juga pernah diberitakan oleh detikTravel. Dalam pemberitaannya, kisah itu disebut sebagai cerita tentang gadis blasteran bermata biru yang dipercaya memiliki keturunan Portugis dan tinggal di sekitar kawasan Benteng Portugis.
Kisah mata biru ini lebih tepat ditempatkan sebagai cerita rakyat atau legenda lokal, bukan sebagai fakta sejarah yang sudah terbukti secara ilmiah. Belum ada bukti genetik atau dokumen sejarah yang cukup untuk memastikan bahwa warga bermata biru di kawasan tersebut memang merupakan keturunan langsung tentara Portugis atau bangsa Eropa lainnya.
Baca Juga: Jateng Uji Jurus Baru Atasi Kemiskinan, Pemuda Jadi Andalan
Justru ketidakpastian itulah yang membuat ceritanya menarik. Ia menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Jika memang pernah terdapat keturunan dengan warna mata biru di kawasan tersebut, keberadaannya yang semakin jarang secara biologis bukan sesuatu yang mustahil.
Warna mata dipengaruhi oleh variasi genetik. Ketika seseorang dengan ciri tertentu memiliki keturunan dengan pasangan yang memiliki latar genetik berbeda, ciri fisik tersebut tidak selalu muncul pada setiap generasi. Dalam perjalanan waktu, melalui perkawinan antarkeluarga dan antarkelompok yang semakin luas, suatu ciri fisik tertentu dapat menjadi semakin jarang terlihat.
Artikel Terkait
Suara Antea Hidupkan Kembali Karya WR Soepratman di Hari Jadi ke-81 Jateng
Kirab Budaya Gerakkan Dagangan Pedagang Kecil
Jateng Uji Jurus Baru Atasi Kemiskinan, Pemuda Jadi Andalan
Putus Mata Rantai Barang Tidak Dilengkapi Cukai, Gandeng Jasa Pengiriman Barang Diajak Bersama Berantas Rokok ilegal
Karimunjawa, Miniatur Indonesia yang Merawat Harmoni di Tengah Keragaman