Wayang dan Kesalehan Sosial

photo author
Marko Komar, Pantura Network
- Selasa, 31 Desember 2024 | 18:12 WIB
Viky Zulfikars, (mahasiswa Unisnu Jepara, Demisioner Lurah Teater Tuman dan Ketua BEM Fakultas Komunikasi dan Desain) (Istimewa for Pantura Network)
Viky Zulfikars, (mahasiswa Unisnu Jepara, Demisioner Lurah Teater Tuman dan Ketua BEM Fakultas Komunikasi dan Desain) (Istimewa for Pantura Network)

PANTURA NETWORK -- Wayang merupakan salah satu ikon bangsa Indonesia dan menjadi warisan budaya yang eksis hingga hari ini. Pada tahun 2003, wayang telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda.

Berdasarkan data yang dikutip dari channel YouTube Asisi, sejarah wayang sudah ada jauh sebelum era Wali Songo. Hal ini dibuktikan dalam beberapa prasasti yang menyebutkan tentang adanya pagelaran wayang kulit itu sendiri.

Pagelaran wayang kulit telah muncul pada era Majapahit atau dalam prasasti Maharaja Balitung di Medang pada abad ke-9, yakni Prasasti Wukayana dan Prasasti Penampihan (820 M). Sementara itu, Prasasti Patakan dari zaman Maharaja Airlangga di abad ke-11 memberitakan adanya pemain wayang yang disebut awayang.

budayBaca Juga: Pawai Budaya Warnai Hari Jadi ke-194 Purbalingga

Gambaran wayang semakin detail dalam Kakawin Arjunawiwaha yang juga dari abad ke-11, yakni berbahan kulit, diukir, digerak-gerakkan, juga dilagukan. Sosok wayang yang dekoratif, pipih, dan menoleh ke samping telah muncul di relief Candi Majapahit seperti Candi Jago, Candi Tegowangi, Candi Surowono, dan lainnya.

Bukti-bukti tersebut menjelaskan bahwa wayang telah dikenal masyarakat Jawa kuno jauh sebelum era Wali Songo. Kitab Tantu Panggelaran (abad ke-17) juga memaparkan gaya pertunjukan wayang persis sama dengan Kakawin Arjunawiwaha.

Ini menunjukkan bahwa wayang kulit bertahan selama enam abad, karena salinan tertua Kitab Tantu Panggelaran dibuat bersamaan saat Sultan Agung dari Mataram Islam gencar-gencarnya menggempur VOC di Batavia. Dari sinilah wayang kulit mulai diadaptasi oleh Wali Songo dan kita nikmati sampai hari ini sebagai bentuk tontonan, tatanan, dan tuntunan.

Baca Juga: Heri Pudyatmoko: Warisan Budaya Tak Benda Harus Dijaga, Bukan Sekadar Dirayakan

Sebagai bentuk warisan Majapahit, Wali Songo memodifikasi sedemikian rupa untuk dijadikan sebagai media dakwah yang dianggap sangat efektif dan berhasil di era itu. Keberhasilan dakwah Wali Songo melalui media wayang merupakan salah satu contoh nyata bagaimana seni dan budaya lokal dapat digunakan secara efektif untuk menyampaikan nilai-nilai agama.

Wali Songo sebagai penyebar Islam di Nusantara memahami bahwa masyarakat Jawa memiliki ikatan kuat dengan tradisi dan budaya lokal, termasuk seni pertunjukan wayang. Dengan pendekatan yang bijaksana, mereka memanfaatkan wayang sebagai media untuk menyampaikan ajaran Islam secara halus dan mudah diterima oleh masyarakat.

Melalui cara ini, Wali Songo menunjukkan bahwa dakwah tidak harus konfrontatif, tetapi dapat dilakukan dengan menghormati dan memanfaatkan budaya lokal. Wayang tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga alat yang membawa perubahan besar dalam kehidupan spiritual masyarakat Jawa.

Baca Juga: Kementerian Kebudayaan Galang Kompetensi SDM untuk Lindungi Cagar Budaya Bawah Air di Jepara

Dalam momen Hari Wayang 2024 kemarin, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Itje Chodidjah, menyatakan bahwa pengakuan bukan hanya sekadar pengakuan namun juga berisi tanggung jawab untuk melestarikan dan mengembangkan seni wayang agar tetap hidup di tengah masyarakat. UNESCO mencatat bahwa wayang ini memiliki nilai luhur untuk kehidupan manusia, itulah mengapa kita perlu melestarikannya.

Mulai dari kisah Wali Songo hingga pernyataan Itje Chodidjah, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), bahwa pelestarian wayang kulit adalah kewajiban bagi masyarakat Indonesia. Di berbagai daerah di Indonesia, dakwah melalui media wayang pun masih digunakan hingga hari ini.

Ki Hendro Surya Kartika, S.Sn., adalah seorang dalang dan juga aktivis kebudayaan di Kabupaten Jepara yang memaknai bahwa wayang bukan hanya sekadar media dakwah tetapi juga laku spiritual. Dalam beberapa contoh kasus, mantra-mantra yang ada di kisah pewayangan dalam Kitab Sastra Jendra ia gunakan sebagai media pengobatan, dan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan wilayah tersebut.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Marko Komar

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X