"Jadi calon investor ingin membangun peternakan modern, indukan babi diimpor dari luar negeri. Lalu dibesarkan di Jepara dengan kapasitas 2–3 juta ekor per tahun untuk diekspor. Retribusi untuk Jepara mencapai Rp300 ribu per ekor plus CSR,” jelasnya.
Baca Juga: Ciptakan Sekolah Aman, KKN UNISNU Gelar Sosialisasi Anti Bullying di SD Bantengmati 2
Namun, angka-angka itu tak menggoyahkan sikap sang kepala daerah. Bagi Wiwit, Jepara bukanlah sekadar wilayah administratif. Ia adalah rumah bagi nilai-nilai keagamaan yang telah mengakar puluhan tahun lamanya.
Baca Juga: Unissula Gelar KKN Tematik Budai di Demak, Fokus Mengabdi Masyarakat
“Jepara adalah daerah yang religius. Kami lebih memilih mendengarkan petuah dan fatwa para kiai agar setiap kebijakan tidak melukai nilai-nilai yang hidup di masyarakat Jepara,” tandasnya.***
Artikel Terkait
Gubernur Jawa Tengah Dorong Percepatan Pengentasan Kemiskinan Melalui Konvergensi Program
Gubernur Jawa Tengah Dikenal Sebagai 'Bapak Inisiator Aglomerasi' Usai Suksesnya Soloraya Great Sale 2025
Sambut HUT RI ke-80 Sembari Patroli, Satlantas Polres Jepara Bagikan Bendera Merah Putih
Dosen PAUD FIP UNY Gelar Pelatihan Terintegrasi untuk Guru PAUD di Mlonggo, Jepara
Bupati Jepara Witiarso Utomo Apresiasi Baznas Jateng Salurkan Bantuan Modal Usaha kepada 135 Mustahik