Baca Juga: Balai Pengujian dan Peralatan DPUBMCK Jateng Lahirkan SMART BP2
Pada tahun 1924 M, Kiai Ahmad Fauzan pergi naik haji ke Baitullah. Ibarat menyelam sambil minum air, kepergian tersebut dimanfaatkan beliau untuk berguru berbagai keilmuan disana.
Menurut Kiai Nur Rohman yang merupakan salah satu putra beliau, saat belajar di tanah suci kiai Ahmad Fauzan mengenyam pendidikan dengan salah satu guru yang sama dengan yang mengajar Kiai Zubair Dahlan ayah KH. Maimoen Zubair Rembang dan Kiai Mahfudz Salam ayah dari Kiai Sahal Mahfudz Pati.
Beliau belajar di Tanah Suci kurang lebih 2 tahun lamanya, kemudian setelah tiba di Tanah Air beliau langsung nyantri di salah satu pondok pesantren yang terletak di Tayu, Pati asuhan KH. Sholeh Amin.
Baca Juga: Ahmad Luthfi Dorong Kebersamaan Tangani Bencana
Di ponpes ini beliau berteman akrab dengan KH. Abdul Jalil pendiri Madrasah TBS Kudus. Menurut pemaparan Kiai Nur Rohman melalui KH. Sholeh Amin ini Kiai Ahmad Fauzan dan Kiai Abdul Jalil mendapatkan petunjuk untuk menginisiasi dan mendirikan madrasah/sekolah formal dengan sistem kelas di masing-masing daerahnya.
Setelah saat itulah Kiai Abdul Jalil mulai mendirikan Madrasah TBS di Kudus, yang hingga saat ini terus maju berkembang menjadi berbagai tingkat dan jenis pendidikan.
Adapun Kiai Ahmad Fauzan mendirikan madrasah di Bangsri Jepara, namun karena saat itu perhelatan politik negara Indonesia yang semakin kompleks, dan Kiai Ahmad Fauzan menjadi tokoh fundamental di kota Jepara, terutama dalam perpolitikan, sehingga perjuangan madrasah ini dibantu oleh keluarga KH. Amin Sholeh (ayah Gus Nung), yang hingga saat ini berkembang menjadi Mts, MA, dan Ponpes Hasyim Asyari.
Baca Juga: Taj Yasin Ajak Masyarakat Sambut Tahun Baru Islam dengan Perbaiki Diri
Hal ini dituturkan oleh Kiai Nur Rohman, yang berdomisili di Desa Panggang, Kecamatan Kota, Kabupaten Jepara, beliau meneruskan perjuangan ayahnya di bidang pendidikan dengan mendirikan Yayasan Pendidikan Bumi Kartini di Jepara, yang telah menaungi berbagai jenjang instansi pendidikan dari TPA, SD, dan SMP.
Kiai Ahmad Fauzan bukanlah Ulama’ yang hanya berkecimpung dalam dunia agama dan pendidikan, beliau seorang pejuang, politikus, dan birokrat yang revolusioner.
Kiai Ahmad Fauzan adalah pemimpin perlawanan terhadap Belanda dan Jepang di wilayah Karesidenan Pati sekaligus pendiri NU di Jepara.
Baca Juga: Mendendangkan Nostalgia di Jateng Fair 2025
Pada tahun 1950 beliau dipercayai menjadi kepala kantor Departemen Agama Jepara, kemudian pada tahun 1952 beliau menjadi ketua partai NU di Jepara yang telah memisahkan diri dari Masyumi mulai saat itu.
Pada Pemilu tahun 1955, partai NU dibawah pimpinan KH. Ahmad Fauzan akhirnya menang telak di Jepara dengan perolehan 110.953 suara.