Panturanetwork.com - Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah menunjukkan tren yang relatif stabil. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sepanjang 2025 ekonomi Jateng tumbuh di kisaran lima persen, sejalan dengan pemulihan aktivitas industri, perdagangan dan konsumsi rumah tangga.
Namun, di balik angka makro tersebut, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko mengingatkan bahwa tantangan utama justru terletak pada sejauh mana pertumbuhan itu benar-benar dirasakan oleh rumah tangga rentan.
Menurut Heri, capaian pertumbuhan ekonomi patut diapresiasi, tetapi tidak boleh berhenti pada narasi agregat.
Ia menilai, masih terdapat jarak antara indikator makro ekonomi dengan kondisi sebagian masyarakat di lapisan bawah, terutama kelompok pekerja informal, buruh berpenghasilan harian, serta rumah tangga yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga kebutuhan pokok.
“Pertumbuhan ekonomi penting, tapi yang lebih penting adalah bagaimana dampaknya terasa di dapur rumah tangga. Kalau ekonomi tumbuh tapi beban hidup masih berat, berarti ada pekerjaan rumah dalam kebijakan,” ujar Heri.
Dalam beberapa bulan terakhir, aktivitas ekonomi di Jawa Tengah memang menunjukkan geliat. Sektor industri pengolahan dan perdagangan menjadi penopang utama, sementara konsumsi rumah tangga tetap menjadi kontributor terbesar terhadap PDRB.
Namun, Heri mencermati bahwa tekanan harga pangan dan biaya hidup masih menjadi faktor yang menggerus manfaat pertumbuhan bagi kelompok rentan.
Ia menilai, kondisi ini menuntut pemerintah daerah untuk tidak hanya fokus pada pencapaian angka pertumbuhan, tetapi juga pada kualitas pertumbuhan ekonomi.
Dalam konteks ini, Heri mendorong agar kebijakan ekonomi daerah lebih diarahkan pada perlindungan daya beli, penciptaan lapangan kerja yang inklusif, serta penguatan jaring pengaman sosial.
Ia menyebut, intervensi kebijakan seperti stabilisasi harga pangan, penguatan UMKM, serta perlindungan pekerja sektor informal menjadi instrumen penting agar pertumbuhan ekonomi tidak bersifat elitis.
Heri juga menyoroti pentingnya sinergi lintas sektor. Pertumbuhan ekonomi, menurutnya, tidak bisa dilepaskan dari sektor pertanian, perdagangan dan layanan dasar.
Ketika harga pangan bergejolak atau distribusi tidak lancar, rumah tangga rentan menjadi kelompok pertama yang terdampak, meski indikator ekonomi makro menunjukkan tren positif.
“Pertumbuhan yang sehat itu bukan hanya soal angka, tapi soal ketahanan masyarakat menghadapi tekanan ekonomi. Di situlah peran kebijakan diuji,” katanya.
Artikel Terkait
Taktik Arema FC Berjalan Efektif, Gol Hansamu Yama Menjadi Pembeda Lawan Persijap Jepara
Cuaca Belum Bersahabat, Sekda Minta Warga Manfaatkan Kanal Darurat
Rumah Inovasi Jateng Disiapkan Jadi Episentrum Riset dan Inovasi Daerah
Minim Pencitraan, Gubernur Luthfi Dapat Apresiasi DPRD Lintas Fraksi
BPH Migas Usulkan Roadmap FSRU Demi Keandalan Pasokan Gas Jatim