Panturanetwork.com - Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko mengajak seluruh mahasiswa di Jawa Tengah untuk memperkuat semangat Marhaenisme dan persatuan bangsa. Ajakan ini disampaikan di tengah maraknya tantangan demokrasi digital, seperti penyebaran hoaks dan polarisasi di media sosial.
Heri menekankan bahwa Marhaenisme, yang berakar pada perjuangan Ir. Soekarno untuk rakyat kecil, tetap relevan hari ini.
“Mahasiswa sebagai agen perubahan harus menjaga ideologi ini agar tidak tergilas oleh arus informasi yang cepat dan sering kali menyesatkan,” ujar Heri.
Menurut Heri, demokrasi digital membawa dua sisi. Di satu sisi, teknologi memudahkan penyampaian aspirasi. Di sisi lain, ia menciptakan ruang bagi hoaks, ujaran kebencian dan pembelahan masyarakat.
Bahkan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mencatat, ribuan hoaks politik beredar setiap tahun, yang sering memicu konflik antarkelompok.
Heri Pudyatmoko melihat, mahasiswa mampu menjadi garda terdepan dalam menangkal ancaman tersebut. Ia mengingatkan agar generasi muda tidak mudah terprovokasi oleh konten viral yang memecah belah.
“Persatuan harus menjadi prioritas. Tanpa persatuan, sulit bagi Jawa Tengah untuk maju,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Marhaenisme mengajarkan sikap gotong royong dan keberpihakan kepada rakyat kecil. Di era digital, hal itu bisa diwujudkan melalui kampanye positif di media sosial, edukasi literasi digital dan diskusi yang sehat antar kampus.
“Mahasiswa harus aktif menyebarkan narasi persatuan, bukan kebencian,” kata Heri.
Sebagai pemimpin yang konsisten mendukung pendidikan politik, Heri mendorong perguruan tinggi di Jateng untuk juga memperkuat kurikulum pendidikan Pancasila dan nilai-nilai Marhaenisme.
Heri melihat, tantangan demokrasi digital sebagai ujian bagi integritas generasi muda ke depan.
“Kita harus cerdas memanfaatkan teknologi, bukan malah dikuasai olehnya. Marhaenisme mengajarkan kita untuk selalu berpihak pada kebenaran dan keadilan,” ujarnya.
Ia mencontohkan bagaimana polarisasi di media sosial pasca-pemilu sering kali melukai persatuan. Oleh karena itu, Heri mengajak mahasiswa untuk menjadi filter informasi yang baik di lingkungan masing-masing.
“Mulai dari kampus, kita bangun budaya diskusi yang santun dan berbasis fakta,” katanya.