PANTURA NETWORK -- Perubahan terasa di wajah para guru keagamaan di Kabupaten Jepara. Bukan karena beban kerja yang berkurang, melainkan hadirnya perhatian yang selama ini dinantikan melalui Program Kartu Guru Sejahtera (KGS).
Program yang digagas Bupati Jepara Witiarso Utomo itu menyasar 15.120 guru dari berbagai satuan pendidikan, mulai dari PAUD, TK, hingga SMP swasta, termasuk guru TPQ, madrasah diniyah, pondok pesantren, sekolah minggu lintas agama, tutor PKBM, hingga instruktur LKP.
Setiap penerima mendapatkan bantuan sebesar Rp1,4 juta per tahun. Bagi para guru, bantuan tersebut bukan sekadar tambahan penghasilan, melainkan bentuk penghargaan atas pengabdian panjang mereka dalam dunia pendidikan.
Baca Juga: 15 Ribu Guru di Jepara Dapat Bantuan Tunai, Program Kartu Guru Sejahtera Dianggarkan Rp 21 Miliar
Salah satu penerima, Esther Sukaenah (56), guru Sekolah Minggu di Gereja Injil di Tanah Jawa (GITJ) Kancilan, Kecamatan Kembang, mengaku bersyukur atas bantuan tersebut. Selama lebih dari 13 tahun mengajar, ia tak pernah membayangkan akan mendapat perhatian seperti ini.
"Bantuan ini sangat membantu, besar sekali bagi kami. Ini benar-benar menjadi berkat," papar Esther saat ditemui di rumahnya di Desa Kancilan.
Esther berencana memanfaatkan bantuan itu untuk kebutuhan keluarga sekaligus berbagi dengan gereja dan anak-anak Sekolah Minggu yang ia dampingi setiap pekan.
Baca Juga: Sumarno: Sinergi Orang Tua dan Guru Menentukan Masa Depan Anak
"Bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi ingin berbagi berkat juga untuk gereja dan anak-anak Sekolah Minggu," lanjut dia.
Hal senada disampaikan Harmanto (48), guru TPQ Darun Najah di Desa Bulungan, Kecamatan Pakisaji. Selama 18 tahun mengajar mengaji, ia mengaku bantuan tersebut sangat berarti bagi keluarganya.
"Kartu Guru Sejahtera ini sangat bermanfaat. Bisa digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anak," tutur Harmanto.
Baca Juga: Gus Yasin: Madrasah Bentuk Generasi Beriman dan Berakhlak Mulia
Menurut Harmanto, program ini juga mencerminkan keadilan sosial karena diberikan tanpa membedakan latar belakang agama.
"Alhamdulillah, tidak ada perbedaan. Semua mendapat perhatian. Ini memperkuat kerukunan umat beragama di Jepara," ucapnya.
Sementara itu, Choirul Nuha, pengajar di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, menyebut bantuan tersebut sangat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Artikel Terkait
Wakil Ketua DPRD Jateng Minta Program Pelatihan Guru Lebih Terarah dan Konsisten
Haul Syekh Asy-Syadzili, Gus Yasin Tekankan Pentingnya Menghormati Guru
KKN UNISNU Jepara Dorong Digitalisasi Sekolah, Guru SD Ujungwatu Dilatih Media Pembelajaran Kreatif Berbasis Teknologi
Menko Polkam: SDM Unggul Dimulai dari Guru Unggul
Pemprov Jateng Salurkan Insentif untuk 230.830 Guru, 2.000 Hafidz dan 60 Beasiswa Santri-Pengasuh