Ketika Kurir Menjadi Korban Kekerasan dan Negara Diuji Melindungi Pekerja Lapangan
PANTURA NETWORK -- Pagi itu, Kudus (24) berangkat bekerja seperti biasa. Helm terpasang, sepeda motor menyala, dan tumpukan paket di boks belakang siap diantar satu per satu. Tak ada firasat bahwa pengantaran di Kecamatan Pasirkuda akan menjadi hari paling kelam dalam hidupnya sebagai kurir.
Menjelang siang, Kudus tiba di sebuah alamat di Kampung Cinangka, Desa Mekarmulya, Kamis (29/1/2026). Pintu rumah tertutup. Tak ada orang. Paket dengan sistem Cash on Delivery (COD) itu tak bisa diserahkan. Ia menunggu. Beberapa menit berlalu. Tetap kosong. Sesuai prosedur, Kudus meninggalkan lokasi dan menghubungi pemesan melalui pesan singkat.
Pesan itu singkat, normatif, dan biasa dilakukan kurir mana pun: pemberitahuan rumah kosong dan saran agar pembayaran COD disiapkan saat pengantaran ulang. Namun, kata-kata yang dimaksudkan sebagai klarifikasi justru ditafsirkan lain. Percakapan berubah panas. Nada meninggi. Emosi tersulut.
Di sinilah persoalan bermula.
Baca Juga: Ahmad Luthfi Perintahkan Pemulihan Sosial Ekonomi Korban Bencana Pemalang
Keesokan harinya, komunikasi berlanjut. Kedua pihak sepakat bertemu untuk menyelesaikan persoalan secara langsung. Bagi Kudus, pertemuan itu adalah upaya menuntaskan tanggung jawab pekerjaan. Ia datang tanpa pengawalan, tanpa perlindungan, hanya membawa paket dan itikad baik.
Namun, situasi di lapangan tak berjalan seperti yang dibayangkan.
Adu mulut terjadi. Bukan hanya antara Kudus dan pemesan, tetapi juga melibatkan anggota keluarga pemesan. Suasana memanas. Dalam waktu singkat, perdebatan verbal berubah menjadi kekerasan fisik. Kudus dikeroyok. Pukulan demi pukulan mendarat. Ia tersungkur.
Baca Juga: BRI Semarang Brigjend Sudiarto Gandeng LJ Hooker, Permudah Masyarakat Wujudkan Mimpi Punya Rumah
Darah mengalir dari kepalanya. Paket-paket yang dibawanya ikut berlumuran merah.
Beberapa warga dan rekan kurir datang menolong. Kudus nyaris tak sadarkan diri. Ia segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis dan visum. Hari itu, Kudus tak pulang sebagai kurir, melainkan sebagai korban penganiayaan.
"Saya Hanya Menjalankan Tugas"
Kalimat itu berulang kali diucapkan Kudus kepada rekan-rekannya. Tak ada perlawanan. Tak ada provokasi. Ia hanya menjalankan prosedur pengantaran COD.
Baca Juga: Presiden Apresiasi Kinerja Pangan Jateng, Luthfi Targetkan Swasembada 2026
Artikel Terkait
Rayakan HUT 17, PD Satria Jawa Tengah Bagikan Ratusan Paket Sembako
Bupati Jepara Witiarso Utomo Ngantor di Desa Krapyak, Gagas Tahunan Jadi Wisata Terintegrasi, Punya Potensi Wisata Paket Komplit
YBM PLN UIK Tanjung Jati B Gelar Cek Gula Darah Gratis & Pembagian Paket Gizi untuk Lansia di Bapangan
Bupati Jepara Dorong Mlonggo Jadi Kawasan Wisata Unggulan : Paket Wisata Terpadu Siap Dibentuk
Anggota DPR RI Andhika Satya Tinjau Banjir dan Longsor di Jepara, Salurkan 1.000 Paket Sembako