ARTIKEL - Istilah "andragogi" pertama kali didefinisikan oleh Alexander Kapp dari Jerman pada tahun 1833. Selanjutnya, pada tahun 1968, Malcolm Knowles menjadi orang pertama yang meluaskan istilah "andragogi" di Amerika Utara. Malcolm Knowles mengatakan bahwa andragogi adalah upaya untuk membuat teori yang khusus ditujukan pada orang dewasa. Knowles menjelaskan bahwa orang dewasa dapat bertanggung jawab atas pilihan mereka sendiri.
Pendekatan andragogi biasanya digunakan dalam pembelajaran di perguruan tinggi. Dalam proses pembelajaran, konsep dan prinsip yang digunakan terdapat pada teori pembelajaran andragogi atau pendekatan andragogi.
Kesiapan belajar mahasiswa adalah jenis, tingkatan, dan satuan/level pembelajaran pendewasaan yang harus diperhatikan. Seperti yang dikemukakan oleh Marc dan Angel, kedewasaan seseorang bukanlah terletak pada ukuran usia tetapi pada sejauh mana tingkat kematangan emosionalnya terhadap suatu pembelajaran (Dewi & Primayana, 2021).
Baca Juga: Job Fair Jepara 2024: Peluang Emas Kurangi Pengangguran dan Bangkitkan Ekonomi Lokal
Andragogi adalah seni dalam mengajar orang dewasa. Pembelajaran yang menggunakan pendekatan andragogi fokus terhadap sebuah masalah, mengajak mahasiswa untuk berpartisipasi secara aktif, dan belajar dari pengalaman yang mereka alami.
Pendekatan andragogi memiliki beberapa keunggulan, seperti pembelajaran dianggap sebagai fase pendewasaan individu, pembelajaran menggunakan model diskusi, model PBL, latihan, proyek, dan praktik, pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa, serta kegiatan belajar ditingkatkan dengan fokus atau tujuan yang diinginkan.
Pendekatan andragogi juga digunakan untuk mengembangkan tingkat belajar mahasiswa, seperti mengembangkan literasi numerasi mahasiswa. Pengembangan literasi numerasi dilakukan dengan pendekatan andragogi karena mahasiswa termasuk dalam kategori orang dewasa yang ciri-ciri belajarnya terlihat lebih berpengalaman. Dengan pendekatan andragogi, capaian keberhasilan dalam pengembangan literasi numerasi mahasiswa bisa dilakukan sesuai dengan pengalaman belajar mahasiswa (Destiani et al., 2023).
Baca Juga: Optimalkan DBHCHT, Kabupaten Rembang Menjadi Pusat Tembakau Berkualitas Dunia
Literasi numerasi dapat diartikan sebagai keterampilan dalam menggunakan berbagai jenis angka atau simbol matematika dan melakukan analisis pada data yang dijelaskan dalam bentuk, seperti grafik, tabel, bagan, dan lain-lain. Menurut kesepakatan dalam World Economic Forum, literasi dapat dibagi menjadi enam penguasaan dasar, yaitu baca tulis, numerasi, finansial, sains, digital, serta budaya dan kewarganegaraan (Asriyati & Hulukati, 2022).
Sesuai dengan undang-undang yang membahas literasi dan numerasi dalam Permendikbudristek No. 17 tahun 2021, peraturan tersebut menjelaskan tentang asesmen nasional yang menilai kompetensi dasar atau penguasaan dasar, yaitu literasi membaca dan literasi numerasi.
Seseorang bisa dikatakan memiliki kemampuan literasi numerasi ketika ia mampu berpendapat, menafsirkan, dan menggunakan simbol serta angka matematika untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Literasi numerasi tidak sama dengan kompetensi matematika.
Baca Juga: Senam Sehat Harmonis Gemparkan Pantai Balongan: Lebih dari 1000 Peserta Ikut Berjoget!
Literasi numerasi digunakan untuk menyelesaikan sebuah masalah yang memiliki banyak cara penyelesaiannya, masalah yang tidak terorganisir, serta masalah yang tidak terkait dengan faktor non-matematis dan tidak memiliki solusi lengkap (Tenny et al., 2021).
Literasi dan numerasi menjadi pokok atau konsep dasar yang sangat dibutuhkan mahasiswa untuk belajar. Numerasi bisa didefinisikan sebagai keterampilan untuk menerapkan jenis angka atau bilangan dalam kehidupan sehari-hari, serta keterampilan untuk melakukan operasi hitung (Nicomse & Naibaho, 2022).