Sekolah Impian atau Ilusi Vivit? Menelusuri Kesejahteraan di SD Al Jannah

photo author
Marko Komar, Pantura Network
- Sabtu, 26 Oktober 2024 | 12:00 WIB
Tampak halaman depan SD Al Jannah Rembang, beberapa waktu yang lalu  (Istimewa for Pantura Network)
Tampak halaman depan SD Al Jannah Rembang, beberapa waktu yang lalu (Istimewa for Pantura Network)

PANTURA NETWORK -- Cabup Rembang, Vivit sering kali menjadi sorotan positif di media sosial, dipandang sebagai sosok yang peduli terhadap dunia pendidikan. Para pendukungnya dengan bangga menceritakan perjalanan Vivit yang mendirikan SD Al Jannah, yang mereka anggap sebagai bukti komitmennya dalam memajukan pendidikan di daerah.

Vivit diidentikkan dengan visi yang jelas, tidak hanya sekadar berjanji, tetapi juga mengimplementasikan program-program inovatif yang dirancang untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak bangsa.

Sekolah yang dikelola Vivit mendapatkan pujian atas perhatian dan dedikasi yang ditunjukkan dalam setiap aspek pengelolaannya. Awalnya, SD Al Jannah dikenal dengan nama SDIT Bias Full Day School. Meskipun pencarian di Facebook masih menunjukkan nama SDIT Bias, sekolah ini kini telah bertransformasi menjadi entitas mandiri dengan branding sendiri sebagai SD Al Jannah Full Day School.

Baca Juga: Kehadiran Bangsal Psikiatri di RS. Bhina: Inovasi Kesehatan atau Sekadar Strategi?

Para pendukung Vivit menyebut SD Al Jannah sebagai model pendidikan ideal, di mana anak-anak mendapatkan pendidikan berkualitas dalam lingkungan yang mendukung perkembangan karakter dan intelektual mereka. Namun, di balik segala pujian yang dilontarkan, kenyataan di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda.

Investigasi yang dilakukan mengungkapkan bahwa kondisi di SD Al Jannah tidak seideal yang digambarkan. Terdapat sejumlah masalah yang cukup serius, mulai dari beban biaya pendidikan yang tinggi hingga kesejahteraan karyawan yang belum terjamin.

Transformasi dan Struktur Kepegawaian

SD Al Jannah, yang sebelumnya dikenal sebagai SDIT BIAS, telah bertransformasi dari sekolah franchise menjadi entitas dengan branding sendiri. Kini, sekolah ini mempekerjakan 26 karyawan, termasuk guru freelance. Namun, tantangan dalam hal kesejahteraan dan manajemen kepegawaian masih menjadi perhatian.

Baca Juga: Deklarasi Meriah Paguyuban Bis Mini: Harno-Hanies Dianggap Mampu Selesaikan Masalah Transportasi

Beban Biaya Pendidikan

Orang tua siswa di SD Al Jannah dihadapkan pada biaya pendidikan yang cukup signifikan. Pembayaran SPP mencapai Rp 900.000 per bulan, dengan rincian sebagai berikut:

- Rp 350.000 untuk infaq wajib

- Rp 350.000 untuk makan

- Rp 50.000 untuk sanitasi

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Marko Komar

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X