Dalam buku Ratu Kalinyamat: Sejarah atau Mitos? yang diterbitkan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Masjid Mantingan disebut sebagai salah satu peninggalan arkeologi penting dari masa Ratu Kalinyamat.
Masjid tersebut diketahui berdiri pada 1559 Masehi dan menjadi salah satu bukti perkembangan kehidupan Islam serta seni bangunan di Jepara pada abad ke-16.
Baca Juga: PAUD EMAS Segera Hadir di Jateng, Libatkan Masyarakat dan Angkat Budaya Lokal
Tetapi kesamaan motif tidak otomatis berarti kedua benda dibuat pada tempat, waktu, atau oleh tangan yang sama.
Setiap detail perlu dibaca seperti halaman sebuah buku lama: jenis batu, teknik pahat, bentuk ornamen, ikonografi, hingga lokasi pertama kali benda ditemukan.
Bukan sekadar soal Hindu-Buddha atau Islam
Yang membuat artefak ini semakin menarik adalah kemungkinan bahwa ia berada dalam konteks masa peralihan budaya Hindu-Buddha menuju Islam di Jawa.
Baca Juga: Jepara Siap Ubah Mulyoharjo dan Tahunan Menjadi Surga Wisata Ukir di 2026
Temuan lain dari Kriyan yang diberitakan pada Juni 2026 bahkan memperlihatkan ornamen dua sisi. Salah satunya menampilkan flora dengan sulur-suluran, sedangkan sisi lainnya dikaitkan dengan Kalabhairawa Tantra dari tradisi Hindu-Buddha.
Temuan semacam ini menunjukkan bahwa perubahan agama dan budaya di Jawa tidak selalu berlangsung dengan cara memutus seluruh tradisi sebelumnya. Sebagian bentuk seni, simbol, dan keterampilan justru dapat terus hidup dan mengalami perubahan makna.
Hal itu menjadi konteks penting untuk memahami seni ukir Jepara.
Sebab, ukiran Jepara yang dikenal dunia saat ini bukanlah tradisi yang muncul begitu saja. Masjid Mantingan menjadi salah satu contoh penting bagaimana seni pahat batu, arsitektur, tradisi lokal, serta pengaruh budaya dari berbagai wilayah bertemu dalam satu karya.
Baca Juga: Jepara Siap Ubah Mulyoharjo dan Tahunan Menjadi Surga Wisata Ukir di 2026
Literatur tentang Ratu Kalinyamat juga mencatat sosok Sungging Badar Duwung sebagai tokoh yang dikaitkan dengan pengerjaan ukiran di Masjid Mantingan dan perkembangan keterampilan memahat batu di Jepara.
Dengan kata lain, sejarah ukir Jepara mungkin menyimpan lapisan cerita yang jauh lebih tua dan kompleks daripada sekadar industri mebel yang kita kenal sekarang.
Artikel Terkait
Bupati Jepara Witiarso Utomo Terima Laporan Nanda, Bocah Kriyan 3 Tahun Kena Kanker, Instruksikan Dinsospermasdes Gercep Lakukan Asesmen
Bupati Jepara Witiarso Utomo Resmikan Pembukaan Gerai Dekranasda, Tenun Toso hingga Ukiran Kayu Kini Punya Rumah Baru
Dukung Pemajuan Kebudayaan, Heri Pudyatmoko Dorong Penguatan Ekosistem Seni Tradisional Jateng
Pasar Raya 2026 Resmi Dibuka, HUT Jateng ke-81 Dirayakan Lewat Seni dan UMKM
Senyum Lembaran Baru PKL Tugu PKK Jepara Usai Penggelontoran Rp210 Miliar Untuk Infrastruktur Jalan