"Di skema kami di Makrotek tidak hanya membantu dan memfasilitasi lembaga mana pun untuk menanam dalam jumlah berapa pun. Kami juga membantu yang sifatnya pribadi melalui program adopsi mangrove. Bahkan menanam satu hingga maksimal empat bibit pun akan kami bantu," ujar Ganis.
Menurutnya, seluruh proses mulai dari penanaman, pelaporan, hingga monitoring dilakukan oleh tim IKAMaT. Hasil perkembangan bibit yang ditanam kemudian dilaporkan secara berkala kepada para pengadopsi.
"Kami bantu tanam, bantu laporkan, dan bantu monitoring. Semua kami lakukan, kemudian perkembangannya kami sampaikan kepada pengadopsi mangrove," jelasnya.
Ganis mengungkapkan, program tersebut kini mendapat respons positif dari berbagai kalangan dengan beragam latar belakang dan motivasi. Tidak sedikit masyarakat yang menjadikan adopsi mangrove sebagai cara unik untuk merayakan momen spesial.
Ia mencontohkan, ada orang tua yang merayakan ulang tahun anak dengan mengadopsi mangrove atas nama sang anak. Bahkan, penggemar budaya pop Korea atau K-Pop juga mulai memanfaatkan program tersebut sebagai bentuk perayaan ulang tahun idola mereka.
"Ada yang merayakan ulang tahun anak dengan adopsi mangrove atas nama anaknya. Kemudian fans-fans K-Pop juga ada yang merayakan ulang tahun artis favoritnya dengan melakukan kegiatan penanaman mangrove," katanya.
Menurut Ganis, fenomena tersebut menunjukkan adanya pergeseran pola kampanye lingkungan yang semakin kreatif dan menyenangkan.
"Sekarang tujuan dari program penanaman itu sangat variatif. Motivasinya beragam dan saya rasa ini cukup positif untuk menciptakan atmosfer kegiatan penanaman yang semakin menyenangkan sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan," ujarnya.
Selain mendorong partisipasi masyarakat, kawasan mangrove di wilayah Mangkang, Kota Semarang, juga masih memiliki potensi yang besar untuk rehabilitasi dan penanaman lanjutan.
Berdasarkan data citra yang dimiliki IKAMaT, luas kawasan mangrove di Mangkang mencapai lebih dari 25 hektare, yang terdiri atas kawasan hasil penanaman maupun mangrove yang tumbuh secara alami.
"Kalau merujuk pada data citra, area mangrove di Mangkang ini lebih dari 25 hektare. Itu merupakan kombinasi antara mangrove hasil penanaman dan yang tumbuh secara alami," terang Ganis.
Ia menilai kawasan tersebut masih cukup potensial untuk menjadi lokasi berbagai kegiatan rehabilitasi pesisir melalui penanaman mangrove, meskipun luasan yang tersedia untuk penanaman baru tidak terlalu besar.
"Masih cukup potensial untuk dilakukan tambahan kegiatan penanaman. Meskipun tidak terlalu banyak, setidaknya masih bisa memfasilitasi berbagai kegiatan penanaman mangrove seperti yang dilakukan berbagai komunitas, lembaga, maupun masyarakat," pungkasnya.***
Artikel Terkait
Data Pemerintah Jadi Aset Strategis, Sekda Jateng Minta Perlindungan Maksimal
BRI Region 10 Semarang Dukung Penyaluran Program BSPS 2026 di Jawa Tengah
18 Tahun Vakum, Tegal Punya RS Swasta Baru untuk Layanan Kesehatan di Pantura Barat
Karnaval Yamaha Gear Ultima Semarakkan Leyangan, 1.300 Warga Antusias Nikmati Hiburan dan Servis Murah
Danantara Dukung Pemberdayaan Nasabah PNM untuk Perkuat Ekonomi Kerakyatan