“Sisa pagu yang ada kami upayakan melalui penyerapan lokal. Informasinya pada bulan Juni akan ada penyerapan di sentra produksi seperti Grobogan, serta tambahan move jagung dari NTB, Lampung, maupun Sulawesi Selatan,” kata Rendy.
Ia optimistis target penyaluran jagung SPHP di wilayah Semarang dapat terealisasi sepenuhnya pada 2026.
“Insya Allah target kami terhadap pagu yang ditetapkan bisa disalurkan 100 persen pada tahun 2026,” jelasnya.
Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Kendal, Suwardi, mengapresiasi pemerintah melalui Bapanas, Bulog, dan Kementerian Pertanian atas realisasi program tersebut.
“Kami mewakili anggota KPUS Kendal yang berjumlah 631 penerima SK dengan pagu sekitar 19 ribu kilogram selama tiga bulan mengucapkan terima kasih atas program ini. Kondisi peternak saat ini memang sedang tidak baik-baik saja,” tuturnya.
Baca Juga: Jateng Percepat Pengolahan Sampah Jadi Energi, Semarang Raya Jadi Proyek Perdana
Menurut Suwardi, meski produksi telur melimpah, harga jual di tingkat peternak justru mengalami penurunan drastis. Di sisi lain, harga bahan baku pakan masih tinggi karena sebagian besar komponennya masih bergantung pada impor.
“Dengan adanya SPHP jagung ini setidaknya bisa membantu mengurangi biaya pakan peternak,” katanya.
Ia menambahkan, KPUS bersama koperasi peternak lainnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta sepakat menyalurkan jagung SPHP kepada anggota dengan harga Rp5.350 per kilogram hingga sampai gudang peternak.
“Kami ingin program ini berjalan sesuai aturan karena ini uang negara yang harus dipertanggungjawabkan bersama,” pungkasnya.***
Artikel Terkait
Wagub Jateng Sambut Pengembangan Koperasi Desa Berbasis Ekonomi Syariah
Film Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan, Hadirkan Tangis Haru Penonton di Semarang
Jateng Bergerak Cegah Kekerasan Santri, Satgas Pesantren Segera Dibentuk
Menteri Maruarar Puji Lompatan Program Perumahan Jawa Tengah Tahun 2026
UMKM Jateng Sumbang Rp22 Triliun Investasi, Ekonomi Kerakyatan Kian Kokoh