Baca Juga: Pemprov Jateng Hadir di Wisuda Tahfidh, Santri Terima Apresiasi
Pengalaman belajar di Sudan turut menjadi inspirasi bagi generasi muda Kedungmalang untuk tidak ragu mengejar pendidikan di negara-negara Arab. Jejak tersebut kemudian diteruskan melalui pembinaan santri di Al-Buruj.
Namun, bagi Abdul Baits, keberhasilan menembus perguruan tinggi luar negeri bukanlah garis akhir. Pendidikan, kata dia, harus menghasilkan manusia yang memiliki karakter dan memberi manfaat bagi masyarakat.
"Ketika pulang nanti, jangan hanya menonjolkan gelar sarjananya. Yang harus lebih menonjol adalah akhlaknya, pengabdiannya, dan kemanfaatannya yang dapat dirasakan oleh umat," pesan Abdul Baits.
Baca Juga: Pemprov Jateng Masih Buka Beasiswa Santri, Ratusan Pendaftar Sudah Masuk
Pesan tersebut menjadi penanda bahwa keberhasilan para santri Kedungmalang tidak semata diukur dari nama universitas atau gelar akademik yang diperoleh.
Dari desa pesisir yang akrab dengan kehidupan nelayan, generasi mudanya kini mulai memperluas perjalanan hingga ke kampus-kampus luar negeri. Gelombang yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kedungmalang seolah menjadi metafora bagi keberanian mereka menghadapi tantangan pendidikan.
Kedungmalang pun menunjukkan bahwa desa bukan batas bagi cita-cita. Dengan pendidikan, dukungan keluarga, lingkungan pesantren, dan keberanian mengambil kesempatan, anak-anak dari kampung nelayan pun bisa menembus dunia - dan kelak kembali membawa ilmu untuk mengabdi.
Artikel Terkait
Gubernur Ahmad Luthfi Luncurkan Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren
Pemprov Jateng Tumbuhkan Jiwa Entrepreneur Santri Lewat Koperasi
Jateng Bergerak Cegah Kekerasan Santri, Satgas Pesantren Segera Dibentuk
Gus Yasin Beri Bisarah Penghafal Quran, Santri Asal Jatim Ikut Menerima
Forum Santri Anak Jateng Mulai Bergerak Cegah Kekerasan di Lingkungan Pesantren