“Jalan ini kita banguan bukan sekadar fisiknya, tetapi agar pergerakan orang dan barang bisa berjalan dengan lancar dan aman. Kalau infrastrukturnya baik, konektivitas wilayah meningkat dan ekonomi masyarakat juga ikut bergerak,” katanya.
Perihal infrastruktur tentu saja tidak hanya tentang jalan dan jembatan. Sebagai provinsi yang menjadi salah satu lumbung pangan nasional, infrastruktur penunjang pertanian juga tidak kalah penting. Misalnya terkait embung dan sistem pengairan lahan pertanian.
Berdasarkan data, sepanjang tahun 2025 terdapat delapan pembangunan embung baru dan dua revitalisasi embung, sedangkan hingga awal tahun 2026, Gubernur Ahmad Luthfi sudah meresmikan hingga 12 embung yang tersebar di berbagai daerah.
Salah satu contohnya adalah Embung Kerangjati di Blora, pembangunan embung tersebut telah dirasakan manfaatnya oleh petani dan lahan pertanian dengan luas sekiyar 40 hektare. Masa tanam padi sebelum ada embung biasanya satu kali karena mengandalkan tadah hujan. Setelah embung jadi masa tanam bisa lebih dari dua kali dalam setahun.
“Sumber air di sini tadah hujan. Tanam padi cuma sekali, kalua coba dua kali banyak gagalnya karena kurang air. Dengan bantuan embung ini bisa menanam sampai tiga kali,” kata perwakilan kelompok tani Sidodadi Kelurahan Karangjati, Karyono, saat peresmian embung pada 2 Maret 2026 lalu.
Gubernur Ahmad Luthfi, mengatakan pembangunan embung merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menyediakan air baku serta memperkuat sektor pertanian sebagai penopang ketahanan pangan.
Ia berharap, embung-embung yang telah dibangun dan diresmikan tersebut dapat dikelola dan dirawat bersama oleh Masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Dalam pertanian itu kuncinya air. Orang menanam itu kuncinya air. Oleh karena itu kita bangun embung untuk menampung air hujan supaya saat kemarau masih bisa dimanfaatkan untuk mengairi sawah,” katanya saat meresmikan Embung Plosorejo di Desa Guworejo, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen.***