Sementara itu, kerja sama antara Jamkrida Jateng dan Jamkrida Kaltim melalui skema co-guarantee untuk proyek di IKN diproyeksikan mendukung nilai proyek sekitar Rp 1,34 triliun dengan potensi imbal jasa penjaminan sekitar Rp 3,452 miliar per tahun.
Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud mengatakan kerja sama tersebut menjadi model kolaborasi antardaerah yang saling melengkapi berdasarkan keunggulan masing-masing wilayah.
Menurutnya, Kalimantan Timur memiliki keunggulan sumber daya alam, sedangkan Jawa Tengah unggul pada sektor industri pengolahan, UMKM, dan manufaktur sehingga keduanya dapat membangun hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.
“Ini terobosan luar biasa dan mudah-mudahan bisa dicontoh provinsi-provinsi lain di Indonesia, sehingga daerah tidak terus bergantung pada APBN maupun dana transfer pusat,” kata Rudy.
Ia mencontohkan, Kalimantan Timur selama ini memperoleh pasokan hampir 10 ribu ton beras dari Jawa Tengah. Sebaliknya, industri di Jawa Tengah membutuhkan pasokan sekitar 1,5 juta ton batu bara dari Kalimantan Timur untuk kebutuhan pembangkit listrik, selain pasokan crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku industri.
“Penduduk Kaltim sekitar 4,2 juta jiwa, sedangkan Jawa Tengah mencapai 38 juta jiwa. Kami memiliki batu bara dan CPO yang melimpah, sementara Jawa Tengah memiliki kekuatan industri. Karena itu, kolaborasi ini saling melengkapi dan memberi manfaat bagi kedua daerah,” ujarnya.***