SEMARANG – Suasana haru menyelimuti gala premiere sekaligus roadshow film Baby Udon di Citra XXI, Mal Ciputra Semarang, Minggu (16/8/2026). Sejumlah penonton terlihat menangis dan terisak setelah mengikuti kisah yang disajikan film tersebut.
Momen semakin istimewa karena penonton tidak hanya menyaksikan film lebih awal, tetapi juga dapat bertemu langsung dengan orang-orang yang terlibat dalam kisah Baby Udon.
Denny Sumargo hadir bersama Caitlin Halderman dan Fanny Kondoh. Ketiganya menyapa penonton sekaligus berbagi cerita mengenai film yang akan resmi tayang di bioskop pada 3 September 2026.
Kehadiran Denny langsung mendapat sambutan meriah. Aktor sekaligus produser Baby Udon tersebut kemudian berinteraksi dengan penonton yang masih terbawa suasana setelah film selesai diputar.
Beberapa penonton bahkan terlihat menitikkan air mata. Cerita yang diangkat dari kisah nyata perjalanan Fanny Kondoh bersama mendiang suaminya, Hajime Kondoh, membuat suasana di dalam studio semakin emosional.
Dalam film tersebut, Caitlin Halderman memerankan Fanny, sementara Denny Sumargo memerankan Hajime. Kisah keduanya bermula dari pertemuan dan perjalanan cinta hingga membangun rumah tangga serta memiliki impian untuk mendapatkan buah hati.
Namun, perjalanan tersebut menghadapi ujian berat ketika Hajime didiagnosis mengidap kanker. Di tengah kondisi kesehatan yang terus menurun, keduanya tetap berusaha mewujudkan keinginan untuk memiliki anak melalui program bayi tabung.
Hajime kemudian meninggal dunia sebelum sempat melihat kelahiran anak mereka. Sementara itu, Fanny akhirnya berhasil mengandung dan melahirkan buah hati yang kemudian dikenal dengan sebutan Baby Udon.
Kisah tersebut menjadi salah satu alasan penonton terbawa emosi saat menyaksikan film. Apalagi, setelah pemutaran selesai, mereka dapat berhadapan langsung dengan Denny, Caitlin, dan Fanny.
Denny Sumargo mengatakan, respons emosional penonton menjadi pengalaman berharga bagi dirinya dan seluruh tim film.
Menurutnya, ketika cerita yang dibawa ke layar mampu membuat penonton tertawa, menangis, maupun merenung, hal itu menunjukkan adanya hubungan emosional antara film dan penontonnya.
“Yang paling penting buat kami adalah cerita ini bisa sampai ke hati penonton. Kalau ada yang menangis, berarti ada bagian dari cerita yang mereka rasakan,” ujar Denny.
Ia juga mengapresiasi sambutan masyarakat Semarang. Menurut Denny, pertemuan langsung dengan penonton memberikan pengalaman berbeda dibandingkan sekadar mengetahui respons mereka melalui media sosial.
“Terima kasih untuk teman-teman Semarang yang sudah datang. Kami senang bisa bertemu langsung dan melihat respons kalian setelah menonton film ini,” katanya.