Kriyan kembali menjadi titik penting
Temuan artefak tersebut bukan satu-satunya alasan Kriyan kembali diperbincangkan.
Pada Juli 2026, Bupati Jepara Witiarso Utomo meninjau langsung kawasan bersejarah di Desa Kriyan.
Baca Juga: Pemkab Jepara Gunakan Karya Juara Lomba Anak 4 Tahun sebagai Desain Kaos Paskibra Welahan
Di kawasan tersebut terdapat bangunan yang dikenal masyarakat sebagai Langgar Bubrah, yang diyakini telah ada sejak masa pemerintahan Ratu Kalinyamat. Selain itu, sejumlah artefak juga dilaporkan ditemukan dalam beberapa tahun terakhir.
Pegiat sejarah dan budaya M. Hisyam Maliki menyebut sejumlah temuan tersebar di tiga kawasan, yakni Langgar Bubrah, Sitinggil, dan Masjid Al Makmur.
Pemerintah Kabupaten Jepara pun menyatakan dukungan terhadap upaya pelestarian, sembari menunggu kajian lebih lanjut untuk memastikan usia, asal-usul, dan nilai historis benda-benda tersebut.
Ini menjadi langkah yang penting.
Sebab benda bersejarah bukan hanya soal seberapa tua usianya. Konteks adalah segalanya. Sebuah batu berukir yang ditemukan tanpa konteks mungkin hanya menjadi benda indah.
Baca Juga: Luthfi Dorong 35 Kabupaten/Kota Hidupkan Kembali Lahan Tidur Lewat Revola
Tetapi ketika diketahui dari mana asalnya, berada di lingkungan apa, berkaitan dengan bangunan apa, menggunakan material dari mana, dan dibuat menggunakan teknik seperti apa, benda tersebut dapat berubah menjadi potongan penting untuk menyusun kembali sejarah sebuah kawasan.
Mungkin, sejarah Jepara masih berada di bawah kaki kita
Selama ini nama Ratu Kalinyamat lebih sering hadir melalui kisah tentang keberanian, kekuatan maritim Jepara, perlawanan terhadap Portugis, maupun tradisi masyarakat seperti Baratan. Padahal, jejak masa pemerintahannya juga dapat dibaca melalui benda-benda fisik yang tersisa.
Bahkan penelitian mengenai tradisi Baratan di Kriyan menunjukkan kuatnya hubungan antara masyarakat setempat dengan memori sejarah Ratu Kalinyamat.
Baca Juga: Prabowo Resmikan Wajah Baru Stasiun Tawang, Siap Jadi Ikon Transportasi dan Wisata Sejarah