PANTURA NETWORK -- Sebuah benda yang sekilas tampak seperti bongkahan batu biasa ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih panjang. Di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, sebuah artefak batu berukir ditemukan dan kini menarik perhatian pemerhati sejarah serta budaya.
Ukirannya yang rumit, dipenuhi sulur tumbuhan dan ornamen dekoratif, membuat benda ini tidak hanya menarik dari sisi artistik, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar: sejauh apa jejak peradaban masa lalu masih tersimpan di tanah Kalinyamatan?
Temuan tersebut menjadi semakin menarik karena Kriyan selama ini memang memiliki hubungan erat dengan sejarah Ratu Kalinyamat. Sejumlah penelitian menyebut Kriyan sebagai salah satu kawasan penting dalam perjalanan awal pemerintahan Kalinyamat.
Baca Juga: Senyum Lembaran Baru PKL Tugu PKK Jepara Usai Penggelontoran Rp210 Miliar Untuk Infrastruktur Jalan
Sebuah kajian akademik bahkan mencatat bahwa kerajaan kecil Ratu Kalinyamat pada mulanya didirikan di Kriyan sebelum kemudian berkembang dan memiliki pusat pemerintahan yang berkaitan dengan kawasan Jepara.
Namun, ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi. Artefak ini belum bisa begitu saja disebut sebagai peninggalan langsung Kerajaan Kalinyamat. Usia, fungsi, asal material, serta konteks penemuannya masih membutuhkan kajian arkeologi yang lebih mendalam.
Justru di situlah menariknya.
Ukiran yang menyimpan banyak tanda tanya
Artefak yang ditemukan di Kriyan pada 2022 dan kemudian menjadi perhatian publik pada 2026 disebut memiliki ukuran sekitar 60 sentimeter panjang, 30 sentimeter lebar, dan 12 sentimeter tebal. Materialnya berupa batu putih.
Pada salah satu sisinya terdapat relief tumbuhan dengan sulur-suluran yang sangat detail, sementara sisi lainnya menampilkan figur Ganesha yang dikelilingi sejumlah sosok gana.
Kajian awal yang disampaikan pemerhati seni ukir Sutarya dari Yayasan Pelestari Ukir (PELUK) Jepara juga menyebut adanya unsur tumbuhan, mega mendung, batu karang, dan figur Ganesha dalam komposisi ukirannya.
Karakter tersebut membuat artefak Kriyan menjadi menarik untuk dibandingkan dengan peninggalan di Masjid Astana Mantingan. Mantingan memang memiliki tradisi ukiran batu yang kuat.
Baca Juga: INFORMA dan INFORMA Electronics Ukir Prestasi di Asia, Boyong Tiga Penghargaan Bergengsi
Masjid tersebut dibangun pada masa Ratu Kalinyamat dan secara historis dikenal memiliki ornamen batu dengan ragam hias yang memperlihatkan pertemuan berbagai pengaruh budaya.