“Jawa Tengah memiliki banyak keunggulan. Selain lokasinya strategis, kondisi sosialnya aman dan kondusif. Kehadiran kawasan ekonomi khusus juga menjadi daya tarik bagi investor,” ujarnya.
Hadi menilai industri kendaraan listrik di Indonesia memiliki prospek yang sangat besar. Karena itu, pengembangan industri harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk penguatan sektor motor listrik, sistem elektrikal, dan baterai.
Ia menambahkan, orientasi ekspor menjadi salah satu kunci keberhasilan industri EV yang akan dikembangkan di Kendal.
“Target kami, minimal 30 persen produksi harus diekspor. Jika mampu bersaing di pasar ekspor, berarti kualitas dan harga produk sudah memenuhi standar global. Karena itu, seluruh mitra yang masuk ke kawasan ini harus memiliki orientasi ekspor,” katanya.
Masuknya investasi senilai Rp 15 triliun tersebut diharapkan menjadi katalis bagi percepatan transformasi industri hijau di Jawa Tengah, sekaligus membuka ribuan peluang kerja baru dan memperkuat daya saing daerah di sektor kendaraan listrik yang terus berkembang.***