Semarang - Sektor pertanian hortikultura di Jawa Tengah terus menunjukkan potensi besar untuk menjadi salah satu penggerak utama ekspor nasional. Dari buah-buahan, sayuran, hingga tanaman hias, produk hortikultura dari provinsi ini memiliki daya saing tinggi di pasar internasional.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko menekankan bahwa pengelolaan yang tepat, inovasi teknologi, serta dukungan infrastruktur adalah kunci untuk mengoptimalkan peluang besar ini.
“Jawa Tengah memiliki sumber daya alam dan iklim yang mendukung untuk pertanian hortikultura. Tantangannya adalah bagaimana kita memanfaatkan potensi ini secara maksimal agar produk kita tidak hanya diminati di dalam negeri tetapi juga menjadi unggulan ekspor,” ujar Heri.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Jawa Tengah, produksi hortikultura di provinsi ini meningkat sekitar 7% setiap tahun, dengan beberapa produk seperti manggis, edamame, dan cabai merah mulai menembus pasar ekspor.
Namun, Heri mengingatkan bahwa untuk menjadikan hortikultura sebagai andalan ekspor, masih banyak hal yang harus diperbaiki, seperti mutu produk, keberlanjutan produksi, dan penguatan akses pasar.
Ia mengatakan, produk hortikultura untuk ekspor harus memenuhi standar internasional, mulai dari residu pestisida, sertifikasi organik, hingga standar kebersihan dan keamanan pangan. Banyak petani di Jawa Tengah yang masih belum memiliki akses terhadap pelatihan dan fasilitas untuk memenuhi standar ini.
Heri juga menyoroti pentingnya infrastruktur seperti jalan, sistem irigasi, dan fasilitas penyimpanan dingin (cold storage) untuk menjaga kualitas produk hingga sampai ke pasar ekspor.
“Produk hortikultura mudah rusak, sehingga efisiensi logistik sangat penting. Ini adalah pekerjaan rumah kita bersama untuk memperbaiki infrastruktur di sentra produksi,” jelasnya.
Heri menegaskan bahwa pelatihan intensif tentang praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP) harus diberikan kepada petani.
“Kita perlu memastikan bahwa produk hortikultura Jawa Tengah tidak hanya melimpah tetapi juga berkualitas tinggi dan memenuhi standar internasional,” ujarnya.
Penggunaan teknologi digital, lanjut Heri, seperti aplikasi manajemen pertanian, pemantauan cuaca, dan e-commerce dapat membantu petani meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperluas akses pasar.
“Digitalisasi akan mempermudah petani dalam memasarkan produk mereka langsung ke pembeli di luar negeri tanpa melalui rantai distribusi yang panjang,” jelas Heri.
Selain itu, Heri juga mendorong pembentukan koperasi atau kelompok tani yang fokus pada ekspor hortikultura. Ia juga mengusulkan pembentukan pusat ekspor hortikultura Jawa Tengah yang dapat membantu petani dalam hal sertifikasi, pemasaran, dan pengurusan dokumen ekspor.
“Melalui koperasi dan pusat ekspor, kita bisa memperkuat posisi tawar petani di pasar internasional,” pungkasnya.